Jumat, 08 Juni 2018

Festival Tongklek 2018 Jatirogo

17 comments

Festival Tongklek 2018 Jatirogo Tradisi Leluhur para Wali. Melestarikan musik tradisional menjadi kewajiban generasi di masa sekarang, salah satunya Warisan Para Wali, yaitu musik tradisional Tongklek yang ada di Jatirogo kabupaten Tuban Jawa Timur.


Festival Tongklek 2018 Jatirogo


Festival Tongklek menjadi pemandangan yang sangat sayang untuk dilewatkan. Tongklek hanya dipertunjukkan di bulan Ramadhan tujuannya adalah membangunkan warga untuk makan sahur.

Setiap daerah tentu punya tradisi untuk menandai saatnya bangun sahur. Ada yang sengaja berkeliling kampung dengan cara bergiliran dan membentuk grup atau tim yang biasanya terdiri dari sepuluh orang bahkan lebih sambil membunyikan kentongan suatu keramaian yang cukup menarik perhatian dan mereka dengan senang hati melakukkannya walau tanpa ada imbal jasa yang mereka dapatkan. Ya ada juga daerah lainnya membangunkan sahur dengan cara shalawatan di mushalla atau masjid saja yang pasti tujuannya sama baiknya juga.

Begitu pula dengan keramaian atau kemeriahan musik tradisional tongklek ini sangat menarik perhatian warga. Dengan kostum unik dan tetabuhan alat musik tradisional yang dibunyikan mengundang perhatian yang sangat sayang untuk dilewatkan. Warga akan rela berjejer di lokasi tempat diadakannya tongklek tersebut demi menyaksikannya langsung.

Mereka yang tergabung dalam festival tongklek terdiri dari pemuda pemudi dan orang dewasa berkeliling kampung sambil bershalawat dan membawakan lagu-lagu religi, jadi bukan sekedar berteriak-triak tanpa makna. Terbayang indahnya dibangunkan untuk bersahur dengan shalawat dan puji-pujian, masyaallah.

Tongklek dikenal sebagai musik tradisional warisan para Wali yang bertujuan untuk membangunkan warga saat makan sahur. Meskipun banyak musik modern yang menjamur demi untuk melestarikan tradisi leluhur ini festival tongklek tetap dilaksanakan di malam bulan Ramadhan, jadi memang sangat sayang untuk dilewatkan moment tersebut karena tradisi ini hanya ada setahun sekali yaitu hanya ada di bulan Ramadhan biasanya puncak tradisi tongklek di malam ke 21 Ramadhan, agar lebih meriah biasanya diadakanlah festival tongklek warisan leluhur ini yang diikuti oleh seluruh warga yang membentuk kelompok atau grup.

Tradisi Tongklek tidak akan ditemukan bila bukan di bulan Ramadhan itu sebabnya banyak yang sangat ingin mengabadikan moment ini dengan berbagai cara, misalnya para youtuber merekam dan menyimpan rekamannya di akun youtube yang mereka punya. Semoga dengan semakin banyak yang mengabadikan tradisi tongklek ini akan terjaga kelestariannya sehingga kelak para generasi berikutnya akan tetap bisa menikmati acara yang cukup unik juga sakral tersebut.

Penasaran dengan kemeriahan tradisi unik ini? Dengan durasi yang cukup singkat semoga tayangan dibawah ini bisa mewakili postingan ini secara keseluruhan. Silahkan lihat tayangan video berikut ini obati penasaranmu aku yakin kamu akan sangat tertarik. Lihatlah! Festival Tongklek 2018 Jatirogo tanpa aku sebutkan kamu pasti tahu pemilik rekaman ini.



Waktu digelarnya festival tongklek ini biasanya seusai shalat tarawih hingga waktu sahur tiba biasanya pukul 02.00 dini hari.

Read More

Senin, 04 Juni 2018

Semua Tentang Kita

13 comments

Semua Tentang Kita adalah sebuah lagu yang dinyanyikan dengan sangat apik oleh Peterpen, menurut info di tahun 2003 lagu ini dirilis, tapi aku baru mengenal lagu ini pada tahun 2005, telat ya? Tidak apa karena menurutku mengenal lagu dan menyukai lagu itu butuh waktu. Seperti halnya butuh waktu untuk melupakan sang mantan, eh tapi nggak juga ya, .... mantan dilupakan jangan dong, siapa tahu kita bisa bermitra dengan sang mantan. Itu alasanku mengapa tidak harus dilupakan mantannterinah. Kalau gimana? Itu sih terserah kamu aja deh kalau aku sih tetap bisa berdamai dengan mantan tak ada masalah kok.

Lagu yang dibawakan oleh Peterpan ini ternyata mampu mengorek masalaluku bersama dia, maksudku ayahanda yang sangat aku hormati dan aku sayangi.

Mulai suka lagu ini karena pada bait-bait liriknya seakan mengisahkan perpisahan. Tapi, bukan perpisahan dengan sang pacar loh. Melainkan di tahun 2002 bertepatan dengan 10 Ramadhan 16 tahun yang lalu bertepatan pula dengan hari Jum'at saat azan subuh berkumandang ayahanda yang sangat kami hormati dan sayangi meninggalkan kami untuk selamanya menghadap Sang Penciptanya.

Saat itu tak banyak yang tahu atas kepergian ayahanda, karena ayahanda masih sempat mengimami shalat tarawih di masjid sekitar dekat rumah tempat kami tinggal. Ayahanda di percaya mengimami shalat terawih oleh jama'ah masjid secara terjadwal dibeberapa masjid dalam lingkungan. Merasa mendapat amanah walau dalam keadaan sakit beliau tetap melaksanakannya dari masjid yang satu ke masjid masjid yang lain setiap malam Ramadhan waktu itu.

Sehingga pada suatu pagi di bulan Ramadhan yang penuh dengan kemulyaan kami terpaksa mengantarkan ayahanda ke Rumah Sakit Umum Abdoel Moeluk Bandar Lampung karena kesehatan ayahanda benar-benar sudah tidak bisa ditawar lagi harus menjalani perawatan intensif dari pihak medis.

Semua mengkhawatirkan kesehatan ayahanda, pihak medis juga berupaya untuk memberikan pelayanan terbaiknya, sehingga setelah menjalani perawatan selama empat hari di Rumah Sakit ayahanda menghembuskan nafas terakhirnya. Inna lillahi wa inna illaihi roji'un.



Banyak kenangan terindah antara aku dan ayahanda, beliau tipe orang tua yang sangat dekat pada anak-anaknya. Beliau sangat jarang marah bahkan hampir tidak pernah marah. Ketika beliau melakukan kesalahan tidak segan meminta maaf meskipun pada anaknya sendiri. Ayah juga senang bercanda bahkan sering bercerita tentang kisah-kisah Islami. Di waktu sedang sakit pun ayahanda masih sempat memujiku, aku tahu ayahanda bermaksud menghiburku agar aku tak bersedih melihat kondisi kesehatannya yang semakin menurun.

Sebelum berangkat ke masjid ayah selalu menyempatkan mengetuk pintu kamarku agar aku segera bangun untuk melaksanajan shalat subuh. Sebagai anak perempuan aku lebih terbuka pada ayah untuk meminta pendapat dalam banyak hal juga nasehat lainnya. Saat hati sedang sedih aku kerap kali mengadu pada ayahanda. Saat aku sedang sakit ayah begitu sibuk merawat dan mencarikan obat untukku, kalau aku rewel tidak ingin berobat ayah menjemput dokter kepercayaannya untuk memastikan kesehatanku, beberapa hari ini kesehatanku sedang terganggu jadi inget ayahanda terus, hiks, .... Ayah.

Di bulan Ramadhan ini aku semakin rindu padamu ayah, semoga engkau bahagia di alam sana, hanya doa kami yang mampu kami kirimkan untukmu ayah. Semua tentang kita saat ayah masih ada di dunia menjadi kenangan terindah yang sulit untuk dilupakan. Biarlah kenangan indah ini akan selalu ada dalam keseharianku ya keseharian kami.

Ramadhan tinggal sebentar lagi bukan berarti kerinduan pada ayah akan terhenti, rasa rindu ini akan tetap abadi dalam diri kami. Kalau saat ini kami tak lagi menangis bukan berarti kami tak sedih, tapi sedih kami tuangkan dalam doa-doa kami agar menjadi teman ayah menanti hari-hari kemudian. Kami tak bisa setiap saat mengunjungi pusaramu ayah, agar kami bisa menjalani kehidupan seperti yang pernah ayah nasehatkan pada kami.

Mungkin sebagian orang lebih menafsirkan lagu semua tentang kita yang dibawakan oleh Peterpan menceritakan tentang sepasang kekasih, tapi aku lebih memaknai liriknya pada kedekatan seorang anak pada orang tuanya yang dalam hal ini seorang ayah. Ada banyak cerita suka, duka, canda dan impian indah yang sempat terucapkan demi untuk membahagiakan beliau, tapi kini tinggal cerita yang indah dan tak boleh untuk dilupakan. I love you ayah, semoga engkau bahagia di sisi Tuhan mu aamiin Ya Allah.

Ini lirik lagunya Semua Tentang Kita

Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati

Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka saat kita tertawa

Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita


Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka saat kita tertawa

Ini tayangan videonya



Seharusnya postingan ini sudah terbit beberapa hari lewat saat kumpul keluarga, tapi kondisiku baru bisa menerbitkan hari ini yah tak apalah. Ayahanda boleh saja tak ada lagi di dunia yang fana ini tapi semua tentang kita nasehat, perhatian serta kasih sayangnya selalu hidup dalam kehidupanku setiap hari.

Read More

Selasa, 29 Mei 2018

Ranum Kamboja Mewangi

23 comments

Ranum Kamboja mewangi, ini judul puisi sebelumnya admin curhat dulu ya.
Terima kasih sahabat Maya yang masih setia hadir di blog Jejak Maya. Blog ini adalah blog terindah yang admin miliki seiring berjalannya waktu mungkin ada hati yang terluka bahkan mungkin ada prasangka tulus dari lubuk hati yang terdalam admin jejak maya mohon dimaafkan untuk setiap khilaf dan salah.

Blog ini tetap akan terus berbagi hal-hal sederhana ada tidaknya yang berkenan hadir karena blog ini murni dibangun untuk berbagi, hiburan dan sarana belajar banyak hal. Kalau beberapa hari ini blog jejak maya tidak menerbitkan apa-apa di sini secara jujur admin sempat shock adsense admin di blog ini terpaksa di non aktifkan karena klik tidak valid. Sehingga menimbulkan tanya "salah apakah gerangan diriku?" Selama ini admin jejak maya tidak pernah mengganggu blog orang lain lalu kenapa blog jejak maya mendapat perlakuan demikian?

Dalam kesempatan yang indah ini di bulan penuh ampunan bila memang ada salah baik admin maupun tulisan di blog ini sebagai pengelola blog jejak maya meminta maaf yang setulus-tulusnya. Blog ini memang bukan sumber mata pencaharian, hanya sebatas senang saja memiliki blog yang ada iklan googlenya hanya itu saja, tapi sekarang sudahlah selalu ada hikmah di setiap peristiwa terutama admin jadi tahu bahwa dunia blog itu yah seperti admin alami, tidak apa ini pelajaran sangat berharga yang tak akan admin temui bila tidak mengelola blog bahkan admin jejak maya mengucapkan banyak terima kasih sudah memberikan pelajaran yang sangat berharga ini.

Alhamdulillah setelah beberapa orang teman sesama pengelola blog mensuport bahwa adsense bukanlah segalanya dan admin sadar bahwa memang dari awal mengelola blog bukan karena adsense kini rasa rindu yang menggebu pada blog ini benar-benar tak dapat di tahan lagi.

Untuk bagian yang eror sampai saat ini admin jejak maya tidak bisa memperbaikinya mungkin ada baiknya dibiarkan saja sampai ada yang benar-benar tulus ikhlas untuk melakukannya, karena sampai saat ini admin jejak maya hanya mempercayakannya pada dua orang teman. Dua orang teman inilah yang sejak awal membangun blog ini sudah sangat banyak membantu tentu saja admin jejak maya sangat berterima kasih kepada keduanya, tapi mungkin keduanya sedang sangat sibuk dan sudah tidak mungkin lagi untuk membantu yah, ... admin jejak maya tidak bisa berbuat apa-apa. Anggap saja kenang-kenangan mungkin? Hehe ...

Kangen banget menulis dan berpuisi ahay masih bisa nggak ya, kita coba yuk!



Ranum Kamboja Mewangi


Bila mentari lelah mengemban tugasnya
Tiba menggelar sajadah malam
Berbicara pada pekatnya kelam
Menitiskan sebuah kerinduan
Rasa yang tak akan pernah padam
Walau duri-duri tajam ditancamkam
Dan perih yang tak pernah lelah menguliti raga

Suatu saat setiap rasa yang terlahir
Akan berakhir dan menjadi penawar luka
Walau luka memenuhi setiap inci raga ini
Darah merah mengucur deras
Rasa getir tak lagi terasa
Biarkan darah terus mengalir hingga tak lagi mampu menitik
Setiap peristiwa akan ada akhir
Walau tak selalu berbuah manis

Ketika daya tak lagi mampu mengangkat raga
Ada tanyaku pada hati yang suci
Adakah luka ini Kau bawa pergi?
Kulebur menancap di jantung hati
Biar kekal terukir sampai raga ini mati

Dalam sisa detik yang masih kumiliki
Nama-Mu mengiringi langkah kaki
Engkau ada dan dekat sekali
Menatapku tak berkedip
Hingga jiwa ini kembali pada-Mu
Tetap tuntun aku menuju ke rahim bumi

Untuk terakhir kali
Dalam bait doa yang mengiringi melepas jiwa memenuhi janji
Semoga ranum kamboja mewangi
Di pusara jasad yang harus pergi
Keindahan sejati saling berbagi
Semoga tak akan terhenti
Walau jiwa telah menepati janji

Ranum kamboja seakan bersaksi
Wanginya semerbak menabur damai
Walau tak disambut dengan senyuman
Ikhlas menyeruak dinginnya bibir yang membisu
lisan yang mencaci
Hati yang penuh benci
Tatap penuh curiga
Ranum kamboja mekar tiada yang perduli
Dan gugur ke bumi digundukan pusara sunyi
Rela melebur bersama jasad yang harus pergi

Ranum Kamboja mewangi di pusara sepi siapa yang perduli,
begitukah kehidupan yang fana ini.

🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Bandar Lampung
13 Ramadhan 1439 H

Read More

Jumat, 13 April 2018

Lagu Ayah dari Seventeen

44 comments

Lagu Ayah dari Seventeen ini membuat hati haru sekaligus membuat hatiku yang sedang rindu pada ayah semakin rindu. Iyalah bocorannya nih admin jejak maya sedang rindu berat dengan sosok lelaki hebat dalam hidup ini, dia adalah ayah. Semoga ayahanda bahagia di alam sana aamiin ya Robbal'allamiin.

Sangat banyak lagu-lagu yang sengaja diciptakan oleh pengarang atau pencipta lagu khusus buat para ayah yang hebat, begitu pula dengan lagu ayah yang dinyanyikan oleh Seventeen yang merupakan tembang cantik yang dikhususkan bagi seluruh ayah yang hebat bagi anak dan keluarga yang sangat disayanginya.

Lagu Ayah bergenre pop yang dibawakan secara apik oleh band Seventen menceritakan betapa perjuangan seorang ayah dalam membesarkan dan bagaimana bentuk perhatian serta kasih sayang seorang ayah terhadap anak-anak dan keluarganya.

Saat aku mendengarkan lagu ini terbayang kehebatan seorang ayah yang begitu gigihnya berjuang dengan segala kemampuannya dan segenap jiwa raganya semua demi cinta kasih pada anak dan keluarganya.

Luluh hati rasanya setiap kata memcerminkan kasih sayang yang tercurah utuh untuk kebahagiaan sang buah hati juga keluarga. Secara jujur lagu ini sangat menggugah rasa haru dan membuat hati merindumu ayah.

Dalam lirik lagu ini juga diungkapkan tentang bagaimana seorang anak yang mengakui kehebatan seorang ayah baginya. Tentang kerinduannya pada sang ayah. Bahkan dilukiskan bagaimana sang ayah sebagai pelindungnya dalam setiap situasi bahkan situasi tersulit sekalipun.

Sempurnanya lirik lagu ini diiringi musik yang lembut sejuk di hati membuat tak bosan walau sudah berulang kali aku memutar dan mendengarkan lagu ini. Aku merasa semakin sering aku mendengarnya semakin suka dengan setiap liriknya. Akhirnya secara keseluruhan ia, aku suka banget dengan lagu ayah yang dibawakan oleh band seventen ini. Setiap bait memuat kata- kata yang teramat menyentuh rasa.

Sangat cocok rasanya bila aku katakan lagu ayah ini persembahan untukmu ayah hebat dimanapun berada, semoga ayah yang hebat, yang berjuang untuk kebahagiaan anak dan keluarganya mendapatkan balasan yang indah dari Allah, aamiin ya Allah.



Lagu Ayah dari Seventeen

Engkaulah nafasku

Yang menjaga di dalam hidupku

Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik

Kau tak pernah lelah

Sebagai penopang dalam hidupku

Kau berikan aku semua yang terindah

Aku hanya memanggilmu ayah

Di saat ku kehilangan arah

Aku hanya mengingatmu ayah

Jika aku tlah jauh darimu

Kau tak pernah lelah

Sebagai penopang dalam hidupku

Kau berikan aku semua yang terindah

Aku hanya memanggilmu ayah

Di saat ku kehilangan arah

Aku hanya mengingatmu ayah

Jika aku tlah jauh darimu

Aku hanya memanggilmu ayah

Di saat ku kehilangan arah


Aku hanya mengingatmu ayah

Jika aku tlah jauh darimu

Aku hanya memanggilmu ayah

Di saat ku kehilangan arah


Aku hanya mengingatmu ayah

Jika aku tlah jauh darimu


Oh ya, buat yang belum tahu dengan lagunya coba deh klik linknya dibawah ini, atau kamu sudah tahu dengan lagunya, gimana menurutmu dengan lagu ini? Boleh share di kolom komentar atau kamu juga sedang kangen dengan ayah yang mungkin sedang berada ditempat yang jauh dari lelaki hebat tersebut?

Ayah, aku memanggilmu ayah semoga doa terbaikku membuatmu bahagia disana.

Lagu Ayah dari Seventeen

artikel : Lagu Ayah dari Seventeen

Read More

Senin, 09 April 2018

Senja Akan Selalu Ada dan Tepat Waktu

38 comments



"Terkadang kita butuh mengutuk senja, dengan alasan tertentu, tapi jangan terlalu lama yaa karena esok hari kita masih membutuhkannya ..." Ucap Gunawan sambil menatap jauh ke depan. Dihadapannya langit jingga keemasan perlahan meredup seakan awan hitam enggan bergerak tak rela menghadirkan gelap mengakhiri tugas sang matahari. Seakan awan pun tak ingin kehilangan indahnya senja yang menghias langitnya. Tampak sepasang mata menikmati senja keemasan yang terhampar memanjakan mata.

"Aku mengutuk senja yang kemarin saja kok, ... mana mungkin aku mengutuk senja berikutnya." Sedikit merajuk Dinda membelalakkan matanya menatap Kakaknya yang tak jua mengalihkan pandangan dari rona senja yang segera berakhir.

"Ya, ... harusnya memang begitu karena senja hari ini lebih indah dari senja yang kemarin."

"Senja yang kemarin juga indah Lanceuk, hanya saja perasaanku yang sedang kesal."

"Oho, adi salah alamat tuh, ... perasaan sedang kesal mengapa senja yang menjadi sasaran?"

"Biarin! Suka-suka Dinda, Lanceuk kok ngatur-ngatur gitu sih!"

,

"Hem, perasaannya masih kesal ya? Tuh, masih marah-marah saja, nanti cepet keriput loh." Gunawan menggoda adiknya yang masih terus menampakkan wajah kesalnya. "Kemarin perasaan kesal membenci senja, lah sekarang perasaan kesal, kok tidak membenci senja, ... hehe ..." Lanjut kakaknya Dinda kali ini Gunawan duduk disamping adiknya sambil membuka tutup botol air mineral dan langsung meneguknya beberapa tegukan. "Minum dulu biar kesalnya hilang, hatinya jadi adem, nih ....! Gunawan menyodorkan botol mineral untuk Dinda adiknya.

Gunawan mengambil dodol Garut dari dalam tas ransel yang tergeletak di sisi kanan Dinda tepat diantara keduanya.

"Senja akan selalu ada dan tepat waktu dik, supaya kesibukan di dunia sempat beristirahat, mengumpulkan energi untuk aktifitas esok hari, ... betul begitu Dinda yang suka ngambek, hehe ....? Tuh cobain dodol oleh-oleh dari pak Hernawan ...!"

Pak Hernawan adalah pemilik kambing-kambing yang digembalakan Gunawan.

Gunawan memperhatikan Dinda yang terus memandang kaki langit yang merona jingga keemasan, sambil meneguk air mineral dengan perlahan. Rasa segar menjalari kerongkongannya. Sementara matahari kian tertutup awan. Tampak Gunawan melepaskan tali tambang yang ditambatkan di pohon nangka. Lima ekor kambing yang sedang digembalakan oleh kakak beradik ini gemuk-gemuk, tentu saja tidak hanya gemuk, tapi juga sehat karena kedua kakak adik ini merawatnya dengan kesungguhan layaknya hewan piaraan mereka sendiri.

Pak Hernawan juga sayang pada Dinda juga kakanya. Dinda masih bisa melanjutkan sekolah sampai menengah atas dan sebentar lagi akan mengikuti ujian akhir sekolah atas biaya dari pak Hernawan. Pak Hernawan berjanji pada kedua orang tua Dinda dan Gunawan akan merawat dan membiayai pendidikan mereka hingga perguruan tinggi sekalipun. Sayangnya Gunawan tidak ingin melanjutkan ke perguruan tinggi karena tidak ingin membebani pak Hernawan, tapi ia ingin agar Dinda bisa lanjut kepergguruan tinggi. Itu juga yang menyebabkan Gunawan memilih bekerja sebagai cleaning service di Rumah Bersalin yang ada di daerah tempat ia tinggal. Kemarin ia terlambat pulang karena teman kerja aplusnya izin tidak masuk kerja. Sehingga Gunawan terpaksa menggantikan tugas temannya di sore harinya.

Senja kian tenggelam saatnya mereka pulang dan membawa kambing-kambingnya ke kandang.

"Ayo Dinda, sebentar lagi senja benar-benar tenggelam, kita harus segera pulang!"

Dinda menyandang tas ranselnya mengikuti langkah kakaknya dari belakang.

"Senang lihat adikku tidak cemberut lagi." Gunawan menengok kebelakang dia lihat sang adik tampak sudah tak marah lagi.

Dinda hanya diam saja tak begitu ingin merespon kata-kata kakaknya. Dalam hati Dinda memuji kakaknya yang selalu sabar menghadapi kemanjaan maupun kenakalan dirinya. Dinda tahu betul kakaknya sangat sayang padanya. Tugasnya menggembala kambing hingga senja berakhir kemarin seorang diri sebenar terpaksa dibebankan padanya karena sang kakak sedang ada pekerjaan sehingga terlambat pulang.

Meskipun kambing-kambing piaraannya tidak akan membuat repot Dinda dan tempat padang rumput yang biasa mereka gunakan ngangon kambing tidak jauh dari rumah mereka Gunawan sangat tahu Dinda akan kesal dan sebenarnya tidak tega membiarkan Dinda menggembala kambing seorang diri kemarin, tapi persediaan pakan sedang habis karena Gunawan tak sempat ngarit sebelum berangkat kerja.

Gunawan meminta tolong Dinda lewat SMS, "Dinda, pulang sekolah jangan lupa shalat dan makan, kakak minta tolong bawalah kambing kita ke padang rumput tempat biasa kakak membawanya, ... ya, maaf kakak terlambat pulang."

"Yah, ... kok Dinda sih?"

"Nanti kalau sudah selesai kakak langsung kesana ya, kakak janji." Balasan SMS dari Gunawan pada adiknya.

Dinda kesal dengan tugas ini meskipun Dinda pernah menggembalakan kambing, tapi tidak pernah sendirian selalu bersama kakaknya Gunawan. Dinda biasanya hanya ikut saja dan menghabiskan waktunya untuk membaca buku atau mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Bagaimanapun enggannya Dinda dengan pekerjaan ini, demi rasa hormat dan sayangnya pada sang kakak dikerjakannya juga, yang membuat Dinda tambah kesal kakaknya datang setelah senja benar-benar berakhir. Tak urung kekesalannya dia lontarkan begitu saja, "aku benci dan mengutuk senja, senja yang menyebalkan!" Rutuk Dinda dalam hati.

"Maaf ya adi, kakak telat, pasti bete sendirian ya...?" Gunawan segera memasukkan kambing-kambing ke kandang. Gunawan tiba di depan rumah tepat bersamaan Dinda juga sampai di rumah dengan hewan gembalaannya.



"Aku benci senja!"

"Loh, kenapa?"

"Sudahlah ak!"

Kekesalan di senja kemarin. Dinda kesal pada senja, dia ingin senja tidak cepat berakhir agar kakaknya tidak terlambat datang.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Halo, bosan dengan fiksi jejak maya? Semoga tidak ya. Kali ini imajenasiku menari pada dua orang kakak beradik. Maksudku ada kakak beradik dalam cerita ini muncul begitu saja dalam benakku setelah membaca komentar dari admin blog Saung Maman dipostinganku sebelum ini. Aku sangat yakin kalian mengenalnya, karena beliau seorang blogger senior dan rajin merespon setiap komentar juga kunjungan di blognya. Pasti sudah tahu dong siapa beliau.

Hem, sudah menebak ya, nah untuk yang masih penasaran dengan pemilik blog saung maman ini silahkan kunjungi rumah keduanya yaitu : saungmaman.com.

Dipostinganku sebelum cerita ini ada seorang teman blog beliau pemilik blog diarymahasiswa.com namanya Andi Nugraha tentunya juga sudah tak asing lagi dengan bloger satu ini, buat yang belum tahu silahkan berkunjung ke buku diary beliau, kamu akan disambut dengan penuh keakraban dan jangan kaget kalau komentar diblognya ramai, kok bisa ya? Mungkin kamu akan menemukan jawabannya setelah berkunjung sendiri ke blognya.



Beliau bilang begini dipostinganku sebelum ini :

"Keren nih, Teh. Nemenin diwaktu siangku, ngomongin soal ngopi aku sendiri udah lama nggak minum kopi. Udah tiga harian ini minum coklat anget terus..hehe

Oh, ya, Teh. Btw, kalau boleh saran, next gambarnya di perbesar aja coba, biar terlihat bagus, terus di taro posisi tengah :)

Ide cerita memang banyak banget berkeliarang di sekeliling kita ya, Teh. Asal kita peka pasti banyak ide yang did apat, terkadang malah bingung nulis yang mana dulu ya..hehe."

Sekarang aku ikuti sarannya dan dalam kesempatan ini juga aku ucapkan banyak terima kasih untuk sarannya, semoga berkah ya .... πŸ˜€πŸ™πŸ»

Baiklah terima kasih untuk responnya ceritaku boleh jadi tidak menarik dan jauh dari unik. Tapi, imajenasiku tak mampu berkutik kala jemariku mulai terusik. Jadilah rangkaian aksara tanpa makna, biarlah tak mengapa karena hanya ini yang kubisa.
Wassallam.

Sebenarnya aku ingin segera menutup postingan ini, tapi sepertinya kara-kata ini cukup manis sebagai penutupnya :

Tak ada yang salah dengan senja
Emosi hanyalah luapan rasa saja
Sesaat hati melembut
Maafpun terjemput


Fiksi : Senja Akan Selalu Ada dan Tepat Waktu.

@@@

Read More

Jumat, 06 April 2018

Ksatriaku dan Secangkir Kopi

27 comments

Judul : Ksatriaku dan Secangkir Kopi

Oleh : Admin Jejak Maya

Kau tahu aku sering menyebutmu dengan sebutan yang cukup fenomenal itu menurut teman-temanku. Ya, ku panggil engkau ksatria. Aku punya banyak alasan mengapa kau ku panggil ksatria.

"Kau ini amat berlebihan," sekali waktu saat kau ku panggil ksatria.

"Apa yang berlebihan?" Aku pura-pura tak mengerti dengan apa yang engkau bicarakan. Aku loh selalu ingin memancing obrolan panjang meski sebenarnya tak kau jelaskan pun aku tahu persis apa yang engkau maksudkan. Aku sempat menyungging senyuman sekedar ingin menggodamu di waktu senja itu.

"Ah sudahlah kau selalu begitu," Begitulah respon balik yang kerap aku terima darimu. Sebenarnya aku tahu engkau merasa malu setiap kali ku panggil ksatria.

"Hei, ... wajah mu memerah, ... hem kau sakit?" Dengan tatapan khawatir yang aku rekayasa sekedar ingin menghilangkan ketidaknyamanan yang kulihat dari mu.

"Tidak, aku tidak sakit, ... ayolah buatkan aku secangkir kopi!" Kau masih menundukkan wajahmu seakan ingin menyembunyikan seluruh wajahmu dari tatapan mataku.

"Ok, kau ksatriaku dan secangkir kopi, ... hehe, kutambahkan julukan untukmu."

Kita menikmati senja itu dengan sambil menghirup aroma dari secangkir kopi hitam berdua. Senja memang indah dengan rona jingganya menghias langit menyimpan cerita disetiap harinya. Kita seakan tak ingin terlewatkan menatap rona jingga yang sesaat yang kemudian hadirkan gelap. Andai saja bisa ingin rasanya ku tahan sejenak waktu senja agar kita puas bermandikan ronanya yang mempesona. Tapi tidak mungkin karena sang waktu berdetak selalu sama hari ini juga kemarin juga esok tak dilebihkan maupun dikurangi, kau pernah berkata begitu.

Disetiap senja yang kita lewati bersama banyak harapan yang kita bincangkan. Bahkan kau katakan kau akan selalu menikmati senja bersamaku ditemani celoteh si kecil yang duduk dipankuanmu. Kita seakan tak mungkin untuk dipisahkan selalu saja ingin bersama. "Ksatriaku, jangan tinggalkan aku, rasanya aku lemah tanpamu," disela-sela perbincangan senja seringnya aku memohon padamu.

"Hai, apa yang kau katakan, ... aku tak akan meninggalkamu kecuali maut yang memisahkan kita, kau harus percaya itu," katamu sambil memeluk erat bahuku.

Ternyata kita tidak perlu maut yang memisahkan. Hingga kesalahpahaman di senja itu pun terjadi. Kau memilih diam seribu bahasa dan tak ada lagi ucap mesra, yang lebih menyakitiku kau memilih orang lain membuatkan secangkir kopi untukmu pada senja-senja berikutnya.

Entah sudah berapakali aku menyeduh kopi untukmu dan hanya kau biarkan dingin begitu saja, jangankan kau sesap kopi terbaik racikan tanganku, yang ada bahkan kau biarkan basi tak tersentuh. Aku sempat kecewa dengan perlakuanmu, tapi aku bukanlah bunga yang terpetik dan layu. Aku punya kehidupan yang layak kujalani. Aku punya impian indah disetiap jejak langkahku. Aku punya harapan yang membakar semangatku. Tidak akan aku membuang waktuku hanya karena ksatria sepertimu. Plin plan, tak punya pendirian manisnya hanya sebatas kata-kata, hem kau bukan tipe ksatria yang ada dalam pemikiranku selama ini ternyata.

Jalanku masih panjang. Pergilah! Engkau ksatriaku dan kopi hitam, kelak akan kau lihat siapa yang telah engkau tinggalkan.

Kini ksatriaku dan secangkir kopi itu tak ada lagi dalam tatapan mataku. Tidak juga ada lagi dalam merahnya hatiku apalagi dalam harini-ku.

Sejak kepergianmu aku tak lagi menatap senja. Tiba-tiba saja aku merasa bosan menatap senja. Akupun sudah muak dengan indahmya senja. Bahkan aku sangat ingin mengutuk senja agar senja sadar bahwa aku tak lagi menyukai senja dan aku bukan lagi pengagum senja. Aku membenci senja, karena kini aku sadar selama ini aku telah dibutakan oleh senja padahal masih banyak pesona lain yang layak kukagumi, ah sudahlah! Biarkan ksatriaku dan secangkir kopi mengurung diri dalam rumah pilihan hatinya aku tak ingin pusing dibuatnya.


Ksatriaku dan Secangkir Kopi


Ide cerita komentar teman blog dan penulis buku Sajak Asmara

Sama halnya dengan Satria Salju kami diperkenalkan lewat blog ponsel mywapblog. Sejak berakhir layanan karena pemilik mywapblog memutuskan untuk menutup layanannya kemudian kami hijrah ke blogger milik google sampai saat ini.

Kalau admin jejak maya hanyalah penulis amatir sebatas hiburan saja beda dengan Kang Djcka Artub, beliau adalah penulis profesional dan sudah menghasilkan karya tulis salah satu buku yang admin tahu yaitu yang berjudul Sajak Asmara. Menurut informasi sudah lebih dari satu buku karya beliau yang sudah berhasil diterbitkan untuk lebih jelasnya silahkan kontak beliau langsung ya.

Tulisan-tulisan yang dimuat di blognya pun sangat luar biasa enak dibaca bahkan kita bisa menemukan unsur-unsur pendidikan yang tersembunyi berkat kepiawaiannya mengolah kata-kata. Hem, ... penasaran? Cek blognya! Orangnya sangat respon untuk setiap kunjungan di blog yang beliau kelola terutama yang meninggalkan jejak di kolom komentar pada blognya tersebut. Nggak percaya? Coba aja.

Ok, terima kasih sudah hadir dan membaca, lain kali kita sambung lagi. Siapa yang akan terciduk untuk postingan berikutnya? Kita tunggu saja, wassallam.

Genre fiksi : Ksatriaku dan Secangkir Kopi

Read More

Selasa, 03 April 2018

Ternyata Aku Tuh Nggak Sibuk Sibuk Amat Ya

29 comments

Hujan deras bercampur angin sesekali kilat seakan membelah bumi ditambah angin kencang, rasa bergidik bulu kuduk antara merasa seram dan dingin menggelayuti perasaanku. Malam ini aku baru saja pulang dari kabupaten tetangga menghadiri acara pertemuan kelompok penggiat koperasi remaja. Perjalanan lima jam lewat darat cukup mendatangkan lelah. Ngantuk juga menyerang karena aku memilih berangkat sebelum subuh dari rumah agar tepat waktu. Aku sengaja berangkat dini hari jadi tidak perlu menginap, selesai acara pun aku langsung pulang. Alhamdulillah acara berjalan lancar dan sukses.

Sehari tak membuka pintu dan jendela jejak maya rindu menggerayangi rasaku. Jejak maya terkunci rapat karena sang admin sedang menjalankan amanah dan tugas dari sang pucuk pimpinan. Menjalankan amanah adalah kewajiban dan harus melaksanakan dengan rasa gembira karena resep ampuhnya memang harus gembira agar tak merasa berat menjalani tugas yang sudah menjadi kewajiban.

Rindu yang kian membuncah, tapi aku harus menahan diri sejenak karena sang pintar tempat jejak maya bertahta harus di beri energi lebih kurang tiga puluh menit, beruntungnya tidak ada pemadaman. Ini tidak seperti biasanya, hujan angin tumben-tumbennya tidak terjadi pemadaman oleh PLN. Yah sudahlah mereka yang lebih tahu mana yang harus mereka lakukan. Sementara ku seduh kopi hitam kegemaranku, dan biarkan si hitam manis mengisi energi yang sempat lowbat karena menjalankan tugasnya seharian.

Padahal aku dapat khabar dari seorang teman, kecamatan tetangga sedang ada pemadaman karena gardu PLN tersambar petir dan sedang dalam masa perbaikan.

Menyesap kopi hitam mampu melebur rasa penat dan kantuk yang menghampiriku. Rasanya ingin rebah sejenak, tapi raga memilih terjaga dan membongkar tas ransel yang sesak dengan PR yang belum terjamah, "ok nanti saja" batinku berbisik.

Tiga puluh menit berlalu, cawan keramik berisi kopi hitam mulai tersesap sedikit demi sedikit, begitu caraku menikmati kopi kegemaranku. Perlahan aku membuka pintu jejak maya, aku tersenyum membaca komentar-komentar yang masuk di kolom komentar, ya aku membaca komentar satu persatu itu pun mengundang rasa bahagiaku. Semua komentar yang masuk rata-rata membakar semangatku tak terkecuali komentar seorang teman sesama blog yang bernama Satria Salju, kami berteman di dunia blog saat masih sama-sama mengelola blog ponsel. Meskipun kami tak pernah bertemu di dunia nyata, tapi lewat komentar dan saling berkunjung ke sesama blog kesan akrab tentunya terjalin dan tergambar lewat komentar yang seakan teman sepermainan sejak kecil.

Hello! Jadi kalau kamu menemukan komentar yang kadang lebay, sok akrab, di blog gado-gado ini jangan salah menduga itu semua adalah karena seorang teman blog yang memposisikan dirinya seolah memang teman sepermainan di dunia nyata dan tak lain adalah ingin saling mensuport, menjaga hubungan silaturahmi, saling menyemangati dan sudah saatnya kamu yang mempunyai pola pemikiran buruk hilangkanlah prasangka negatif dalam pemikiranmu. Kami hanyalah sahabat yang merasa dekat dan ingin saling memberi semangat jadi jangan salah tebak, hehe, ... asli becanda bro sekedar ingin berkelakar ku rasa tak ada salahnya.

"

Susah Tidur Dan galau tapi masih bisa Nulis itu luar biasa mbak mhay... Atau lagi iseng nggak bisa tidur juga luar biasa...😊😊. " Itu komentar beliau.

Aku malah kesita waktuku sama pekerjaan & ngurus keluarga .. Sudah beberapa bulan nggak nulis2...😭😭😭" Masih lanjutan sang master Satria Salju.

"lagi iseng, nggak bisa tidur efek mules hehe .... hasilnya ya itu sekedar corat coret nggak jelas." Aku membalas komentar beliau.

"ya kalau sibuk dunia nyata itu sih jelas bro." Lanjut komentarku.

"eh aku jadi ada ide tulisan dari komentar mu, tunggu ya hehe" ku ketikan dengan santai dan sambil tersenyum.

Setelah berpikir sejenak. Ternyata aku tuh nggak sibuk-sibuk amat ya. Kok aku jahat banget rasanya membalas pesan WA dari seseorang beberapa hari lewat dengan kalimat seolah orang super sibuk. Ah! Aku jadi malu banget kalau ingat hal ini, please forgive I Unfortunately, I blunder .... it!!!

"Selamat siang, kita biar enak ngomongnya tentang kerjaan ya ...." begitu kira-kira dia memulai pembicaraan.

"Nggak bisa, sekarang juga aku lagi ada kerjaan!" Kalimat yang diluar dugaan sebenarnya.

"Kapan-kapan aja kalau ada waktu!" Tanpa tanya kerjaan apa langsung saja kalimat itu terkirim tanpa berpikir lagi tampaknya.

Andai saja mau berdamai dengan perasaan mungkin yang muncul adalah, "kerjaan apa? Tapi untuk waktu yang sekarang ini aku belum bisa!" Bandingkan rasanya pasti bedakan.

"Kalau ada waktu mungkin bisa?" Wah adem rasanya.

Jahatnya aku ini. Kenapa aku merasa jahat? Tentu saja aku merasa jahat karena ternyata aku tuh nggak sibuk-sibuk amat. Kalau aku memang super sibuk tentu aku tak akan sempat bermain facebook, mengedit-edit aplikasi, mengedit-edit video, sekedar membuat status Wastshap. Seperti komentar Satria Salju waktu untuk ngepos benar-benar tersita karena sibuk yang jelas. Sedangkan aku sibuk tipe apa nih?

Sibuk benar-benar sibuk, sibuk karena menyibukkan diri atau sok sibuk. Entahlah. Yang pasti balasan lewat pesan WA yang terkirim tepat sasaran untuk membuat seseorang terpental dan sakit dengan luka yang teramat dalam, rasakanlah dan rawatlah luka itu agar tak terus berdarah. Weh! Sadis!

Kok jahat sih? Entahlah mungkin karena aku sulit berdamai dengan keadaan dan tidak profesional menghadapi masalah. Padahal orang butuh bantuan sampai ngemis-ngemis, bahasanya pun tidak ada kesan merendahkan. Dimulai dengan kalimat membicarakan pekerjaan, jelas-jelas ingin memisahkan dengan masalah pribadi, ini kalau ada, kok teganya aku ya Allah .... Lagian orang itu butuh bantuan karena ada rasa percaya dan memberikan kerjaan nggak ngarep digratisin. Oh my god .... Yes God forgive me.

Aduh! Terus aku harus gimana ini? Apa aku harus minta maaf sama beliau? Aku rasa gengsiku terlalu tinggi mana mungkin aku meminta maaf itu sudah pasti. Ya aku merasa tidak bersalah dengan jawabanku. Aku merasa benar dalam posisi ini, mengapa aku harus meminta maaf? Aku masih bisa mendapatkan klien baru yang pasti lebih besar bayarannya. Sombongnya aku ini ... Astaghfirullah .... Ampuni aku ya Robb .... Ternyata etika yang aku miliki masih harus dipertanyakan ... Mungkin aku lelah? Itu bukan alasan sayang, berhentilah mencari pembelaan untuk diri sendiri!

Mungkin pola pemikiranku yang buruk sehingga prilakuku juga buruk. Lagian aku sudah bosan menolongnya, dulu aku menolongnya karena aku menyukai dan mencintainya, mungkin loh dan catat baik-baik! Gratis tak kupinta serupiahpun sebagai imbal jasa, meski dia beberapa kali menawarkan uang jasa aku menolaknya dan ya selalu menolaknya, tapi sekarang aku menolak membantunya karena aku membencinya. Apa? Yang bener tuh, ternyata benar kalimat, "jangan terlalu cinta, nanti akan berbalik teramat membencinya."

Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Asyhadu an laa illaaha illallaah
Asyhadu an laa illaaha illallaah
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah
Hayya 'alas-shalaah
Hayya 'alas-shalaah
Hayya 'alal-falaah
Hayya 'alal-falaah
Ash-shalaatu khairum minan-nauum
Ash-shalaatu khairum minan-nauum
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Laa ilaaha illallaah


Terdengar suara azan dari masjid Al-Mansur yang tak jauh dengan rumah tempat tinggalku. Masih dengan perasaan menyesal yang teramat sangat aku menuju kamar mandi membersihkan tubuhku dan segera kutunaikan kewajibanku. Aku memikirkan kesalahanku dan memohon ampunan pada sang Maha pengampun.

Suara hujan deras tampaknya mulai mereda. Tak lagi terdengar gemuruh halilintar. Suara derau angin pun sudah tak terdengar. Hening dan dingin yang tertinggal menemaniku merenungi sesalku.

Well, nasi telah menjadi bubur tinggal gimana mengolah bubur nasi menjadi sedap dan nikmat untuk disantap, mungkin aku akan menambahkan suwiran ayam goreng, taburan bawang goreng, kerupuk emping melinjo kegemaranku kemudian kutambahkan kacang tanah goreng plus saos sambal yang sedikit asam pedas, hem ... Aku jadi lapar!

Ya ampun teryata aku belum sempat makan malam dan ini sudah pagi, pantas saja rasa lapar terasa dan lagu keroncong bergemaria dalam perutku. Ku teguk kopi hitamku yang mendekati ampas satu tegukan kopi dingin yang terakhir lumayan membasahi kerongkonganku.

Ting .... Ting .... Ting, suara mangkuk berdenting saat beradu dengan sendok, membuyarkan konsentrasiku seketika saja. Aku bergegas menuju pintu depan, "mang bubur ayamnya dua mangkuk ya ...."

Wuih makan dulu pesananku sudah datang, pas banget tukang bubur ayam lewat depan rumah. daaghhh terima kasih sudah membaca sampai jumpa lagi ya ....

Genre fiksi dengan judul : Ternyata Aku Tuh Nggak Sibuk Sibuk Amat Ya



Ide cerita komentar teman blog



Read More