Rabu, 09 Januari 2019

Apa Khabar Mu Tuhan

1 comment

Apakhabar Mu Tuhan? Ini judul puisi kali ini, tapi sebelum lanjut kita berpuisi izinkan saya menyapamu sahabat Jejak Maya, apakabarmu sahabat Jejak Maya?. Saya admin Jejak Maya tentunya sangat berharap sahabat Jejak Maya dalam keadaan baik dan sehat wal'afiat, aamiin ya Allah.

Alhamdulillah, segala puji dan syukur kita tujukan kepada Allah penguasa alam semesta sekarang kita sudah di hari kesembilan tahun 2019 tepatnya hari Rabu, banyak yang telah kita capai ditahun sebelumnya dan mungkin masih ada impian yang belum terwujud semoga Allah memudahkan kita mewujudkan impian indah di tahun ini. Aamiin.

Saya juga ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada semua yang selalu hadir menyambangi blog Jejak Maya baik yang sempat meninggalkan komentarnya maupun yang tidak sempat, segala puji bagi Allah sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Juga saya mohon maaf ada respon yang terlambat atau kunjungan balik saya ke blog sahabat terlambat saya lakukan semua itu bukan kesengajaan, namun in syaa Allah saya usahakan berkunjung ke blog sahabat sesuai kemampuan saya. Namun ada doa terbaik untuk semua sahabat sebagai ungkapan terima kasih saya sebagai admin Jejak Maya.

Puisi ini adalah nasehat bagi admin Jejak Maya, agar selalu ingat pada Nya bahwa bukan Dia Allah yang membutuhkan saya melainkan sayalah yang membutuhkan Dia Allah hidup tenang dan tentram bila selalu ingat pada Nya. Semoga dipahami sebagai hal yang positif saja itu simpelnya. Mohon maaf untuk setiap ketidaksempurnaan dalam tiap bait-bait yang saya buat dalam puisi "apa khabar Mu Tuhan".

Apa khabar Mu Tuhan?
Aku sadar semakin jauhnya aku dari Mu
Tak terhitung lagi waktu ku mengabaikan Mu
Sudah lama sekali aku tak bertegur sapa dengan Mu lewat syair malamku

Sudah berapa kali kulewati penghujung malam tanpa cumbu dengan Mu
Biasanya, aku tak melewatkan di penghujung malam lirih memintal doa menghiba pada Mu

Aku rindu
Menguntai lirih meminta banyak permohonan pada Mu
Begitu riuh dan sesak dadaku menitipkan rindu untuk Mu
Engkau yang tak pernah bosan mendengarkan keluh kesahku
Ditemani malam yang begitu hening Tetes embun malam begitu syahdu tiada ronta

Seakan mengaamiinkan serangkaian kata dalam isakku
Nyanyian malam seakan menepi
Memberi sela lantunan isakanku yang menjadi sebab jatuhnya airmata

Tuhan-ku
Engkau Maha Mendengar
Suburkan cinta ini tumbuh pada Dia
Air mataku saksikan penyesalan atas khilafku
Biarkan setiap kata cinta yang terucap selalu hadir mengetuk pintu langit-Nya

Aku tahu Engkau rindu
Betapa lama jedaku enggan bersuara memanggil nama-Mu
Waktu waktu terakhir yang ku alami
Tak lelap tidurku
Tak indah mimpiku
Karena aku menjauh dari Mu

Ya Allah
Maaf aku telah keliru
Memuja selain Engkau
Merindu selain Engkau
Mengadu pada selain Engkau
Aku malu
Aku pengecut
Hingga aku tak lagi memandang Mu

Kini semua pergi
Tinggallah aku sendiri
Aku lelah
Berlari kesana kemari
Tertidur tak kuasa memandang ke depan

Betapa Engkau penuh belas kasih
Kau menyentuhku sekali lagi
Menjagaku dalam Naungan Mu
Menyapaku lewat doa doa saudaraku
Hingga aku terjaga
Kembali datang menghampiri Mu
Merasakan hangatnya Kasih Sayang Mu
Menghadirkan kedamaian dalam batinku

Engkau dekat
Engkau memberi cahaya dalam pekat gelisahku
Ini aku datang pada Mu
Ini aku kembali datang dipenghujung malam Mu
Sambut aku
Bersihkan aku dari kehinaan
Sucikan aku dari kotoran yang melekat
Angkat aku yang hampir tenggelam

Aku rindu
Akulah yang membutuhkan Mu
Ampuni kesombongan diri
Hanya pada Engkau aku berharap
Beri aku kepantasan untuk menghadap pada Mu
Ya Allah .....


Jejak Maya, Air Hitam 9 Januari 2019

Read More

Jumat, 14 Desember 2018

Rinduku Tak Akan Hilang

5 comments

Rinduku Tak Akan Hilang, judul puisi ini terlintas begitu saja. Entah mengapa kali ini aku berpiki keras untuk mendapatkan rangkaian kata dalam bait-bait puisi ini. Hingga berulang kali aku mengeditnya untuk mendapatkan kalimat yang ingin aku torehkan dalam puisi tak bermakna ini.

Sahabat, andai kau tersesat di blog ini dan sempat membaca puisi ini tolong katakan padaku apa yang ingin aku sampaikan lewat puisi ini, ya .... Aku bingung! Tapi aku suka dengan rangkaian katanya.

Puisi kerap kali membuat aku tersesat menyampaikan maksud secara gamblang. Bagai menempuh perjalanan berliku kemudian tersesat di hutan belantara tak tahu arah mana dituju, jalan pulang atau semakin masuk tersesat dihutan romba yang lebat.

Simaklah baik-baik ada rahasia yang ingin aku sampaikan, apakah itu? Entah!

Ku bisikan ini padamu angin malam
Kalau hingga sampai senja nanti
Tak kau dapati aku pulang
Tolong antarkan rindu ini kepadanya


Aku yang hanya mampu berdendang
Memandang jalang pada asa yang menantang


Kubiarkan perih mataku
Bersimbah air mata
Tak akan hilang rindu ini padamu


Aku tak peduli
Aku sungguh tak malu


Kutitipkan pada angin malam
Mohon maafkan aku sekali lagi


Mimpimu masih tersimpan disudut sana
Apik terjaga dalam balutan tanpa noda
Aku tak memaksamu untuk percaya
Karena cinta terlahir begitu saja


Hening ....

Dan kesenyapan ini masih erat aku genggam

Biarkanlah

Sampai maut cintamu ku bawa kesana


Senja ....
Aku tak pulang
Rinduku tak akan hilang


Lorong waktu, Akhir 2018


Keterangan gambar :Koleksi page Sebening Embun Pagi


Read More

Rabu, 28 November 2018

Aku Pergi Karena Sudah Takdirku

10 comments

Hai kamu
Bila nanti aku pergi lebih dulu darimu
Semoga kau mampu mengingatku sebagai seorang yang pernah hadir dalam kehidupanmu
Dan
Semoga kau juga ingat bahwa aku seorang yang tak pernah jemu untuk terus mencintaimu

Ya kamu
Sadarilah bahwa aku adalah insan yang terlalu tulus mencintaimu
Meskipun, pada akhirnya kau tak pernah membalas cinta tulusku

Kamu mungkin juga harus tahu
Bila suatu hari nanti, di saat aku telah pergi 'tuk selamanya
Sadarilah bahwa akulah orang yang terus mengasihimu walau tak pernah mendapat perhatian dan kasih darimu

Kini aku pergi
Bukan karena keinginanku

Tapi,

Aku pergi karena sudah takdirku
Aku yang hanya bisa mencintaimu
Aku yang hanya bisa memilihmu untuk dirindukan

Dan,

Aku yang tak mungkin untuk memilikimu
Aku yang bukan menjadi pilihanmu

Aku pergi
Selamat tinggal cintaku
Andai saja kepergianku ini mampu membuatmu mengerti bahwa aku sangat mencintaimu
Itu adalah kebahagiaan bagiku
Tapi manalah mungkin kebahagiaan itu kumiliki, karena kau tak akan pernah mengerti

Dan

Semoga kepergianku ini mampu membuatmu memahami
Betapa sakitnya mencintai seseorang yang tak mungkin untuk dimiliki

Aku pergi sayang
Iringi kepergianku dengan doa terbaikmu
Dan
Kan Ku Simpan saja air mata kesedihan ini
Yang kuinginkan darimu, tersenyumlah karena kau bahagia dengan takdir ini


keterangan gambar : dokumen pribadi pemanis post

Read More

Kamis, 02 Agustus 2018

Di Sisa Usia

31 comments

Hari terus berganti
Meski perlahan namun pasti
Kini ku injakkan kaki
Menuju anak tangga satu lagi
Setelah kulewati berbagai cerita mewarnai
Ragam kehidupan duniawi

Di puncak tangga yang baru
Aku kembali membuka lembaran baru
Menjalani sisa dari jatah usiaku
Ku mohon keridhaan dari Mu
Bimbing aku setiap waktu
Jangan biarkan aku menjauh dari Mu

Aku tak pernah tahu
Berapa lagi sisa umurku
Helai demi helai gugur satu persatu
Atas izin Mu aku masih menghirup anugerah Mu
Tiada terbilang karunia Mu
Izinkan aku bersujud syukur pada Mu

Dalam kehinaan ini
Kuakui kealpaan hati
Kerap diri melalaikan kewajiban sudah pasti
Ibadah yang kadang tak suci
Diwarnai riak juga ternoda kepaksaan bahkan sebatas melepas kewajiban diri

Di sisa usia ini
Yang tak pernah ku tahu kapan saatnya berhenti
Mengayunkan langkah kaki
Izinkan dahi ini
Untuk bersujud memohon ampunan Mu ya Rabbul Izzati

Dengan segala kehinaan ini
Mengakui selama perjalanan di bumi Mu ini
Keinginan duniawiku selalu melebihi

Sujudku jauh dari khusyuk
Inginku yang kemaruk
Duniawiku sangat sibuk
Mimpiku membuat mabuk
Astaghfirullah, ampuni aku yang terpuruk

Ya Robbana
Di sisa usia yang masih ada
Ridhai diri meminta
Menjadi manusia yang berguna
Menjadi khalifah yang sempurna
Hingga kelak tutup usia
Mendapat tempat yang mulia
Memandang senyum Mu di sana


Di Sisa Usia


Muhasabah di sisa usia
Kamis, 2 Agt 2018


Read More

Jumat, 08 Juni 2018

Festival Tongklek 2018 Jatirogo

32 comments

Festival Tongklek 2018 Jatirogo Tradisi Leluhur para Wali. Melestarikan musik tradisional menjadi kewajiban generasi di masa sekarang, salah satunya Warisan Para Wali, yaitu musik tradisional Tongklek yang ada di Jatirogo kabupaten Tuban Jawa Timur.


Festival Tongklek 2018 Jatirogo


Festival Tongklek menjadi pemandangan yang sangat sayang untuk dilewatkan. Tongklek hanya dipertunjukkan di bulan Ramadhan tujuannya adalah membangunkan warga untuk makan sahur.

Setiap daerah tentu punya tradisi untuk menandai saatnya bangun sahur. Ada yang sengaja berkeliling kampung dengan cara bergiliran dan membentuk grup atau tim yang biasanya terdiri dari sepuluh orang bahkan lebih sambil membunyikan kentongan suatu keramaian yang cukup menarik perhatian dan mereka dengan senang hati melakukkannya walau tanpa ada imbal jasa yang mereka dapatkan. Ya ada juga daerah lainnya membangunkan sahur dengan cara shalawatan di mushalla atau masjid saja yang pasti tujuannya sama baiknya juga.

Begitu pula dengan keramaian atau kemeriahan musik tradisional tongklek ini sangat menarik perhatian warga. Dengan kostum unik dan tetabuhan alat musik tradisional yang dibunyikan mengundang perhatian yang sangat sayang untuk dilewatkan. Warga akan rela berjejer di lokasi tempat diadakannya tongklek tersebut demi menyaksikannya langsung.

Mereka yang tergabung dalam festival tongklek terdiri dari pemuda pemudi dan orang dewasa berkeliling kampung sambil bershalawat dan membawakan lagu-lagu religi, jadi bukan sekedar berteriak-triak tanpa makna. Terbayang indahnya dibangunkan untuk bersahur dengan shalawat dan puji-pujian, masyaallah.

Tongklek dikenal sebagai musik tradisional warisan para Wali yang bertujuan untuk membangunkan warga saat makan sahur. Meskipun banyak musik modern yang menjamur demi untuk melestarikan tradisi leluhur ini festival tongklek tetap dilaksanakan di malam bulan Ramadhan, jadi memang sangat sayang untuk dilewatkan moment tersebut karena tradisi ini hanya ada setahun sekali yaitu hanya ada di bulan Ramadhan biasanya puncak tradisi tongklek di malam ke 21 Ramadhan, agar lebih meriah biasanya diadakanlah festival tongklek warisan leluhur ini yang diikuti oleh seluruh warga yang membentuk kelompok atau grup.

Tradisi Tongklek tidak akan ditemukan bila bukan di bulan Ramadhan itu sebabnya banyak yang sangat ingin mengabadikan moment ini dengan berbagai cara, misalnya para youtuber merekam dan menyimpan rekamannya di akun youtube yang mereka punya. Semoga dengan semakin banyak yang mengabadikan tradisi tongklek ini akan terjaga kelestariannya sehingga kelak para generasi berikutnya akan tetap bisa menikmati acara yang cukup unik juga sakral tersebut.

Penasaran dengan kemeriahan tradisi unik ini? Dengan durasi yang cukup singkat semoga tayangan dibawah ini bisa mewakili postingan ini secara keseluruhan. Silahkan lihat tayangan video berikut ini obati penasaranmu aku yakin kamu akan sangat tertarik. Lihatlah! Festival Tongklek 2018 Jatirogo tanpa aku sebutkan kamu pasti tahu pemilik rekaman ini.



Waktu digelarnya festival tongklek ini biasanya seusai shalat tarawih hingga waktu sahur tiba biasanya pukul 02.00 dini hari.

Read More

Senin, 04 Juni 2018

Semua Tentang Kita

17 comments

Semua Tentang Kita adalah sebuah lagu yang dinyanyikan dengan sangat apik oleh Peterpen, menurut info di tahun 2003 lagu ini dirilis, tapi aku baru mengenal lagu ini pada tahun 2005, telat ya? Tidak apa karena menurutku mengenal lagu dan menyukai lagu itu butuh waktu. Seperti halnya butuh waktu untuk melupakan sang mantan, eh tapi nggak juga ya, .... mantan dilupakan jangan dong, siapa tahu kita bisa bermitra dengan sang mantan. Itu alasanku mengapa tidak harus dilupakan mantannterinah. Kalau gimana? Itu sih terserah kamu aja deh kalau aku sih tetap bisa berdamai dengan mantan tak ada masalah kok.

Lagu yang dibawakan oleh Peterpan ini ternyata mampu mengorek masalaluku bersama dia, maksudku ayahanda yang sangat aku hormati dan aku sayangi.

Mulai suka lagu ini karena pada bait-bait liriknya seakan mengisahkan perpisahan. Tapi, bukan perpisahan dengan sang pacar loh. Melainkan di tahun 2002 bertepatan dengan 10 Ramadhan 16 tahun yang lalu bertepatan pula dengan hari Jum'at saat azan subuh berkumandang ayahanda yang sangat kami hormati dan sayangi meninggalkan kami untuk selamanya menghadap Sang Penciptanya.

Saat itu tak banyak yang tahu atas kepergian ayahanda, karena ayahanda masih sempat mengimami shalat tarawih di masjid sekitar dekat rumah tempat kami tinggal. Ayahanda di percaya mengimami shalat terawih oleh jama'ah masjid secara terjadwal dibeberapa masjid dalam lingkungan. Merasa mendapat amanah walau dalam keadaan sakit beliau tetap melaksanakannya dari masjid yang satu ke masjid masjid yang lain setiap malam Ramadhan waktu itu.

Sehingga pada suatu pagi di bulan Ramadhan yang penuh dengan kemulyaan kami terpaksa mengantarkan ayahanda ke Rumah Sakit Umum Abdoel Moeluk Bandar Lampung karena kesehatan ayahanda benar-benar sudah tidak bisa ditawar lagi harus menjalani perawatan intensif dari pihak medis.

Semua mengkhawatirkan kesehatan ayahanda, pihak medis juga berupaya untuk memberikan pelayanan terbaiknya, sehingga setelah menjalani perawatan selama empat hari di Rumah Sakit ayahanda menghembuskan nafas terakhirnya. Inna lillahi wa inna illaihi roji'un.



Banyak kenangan terindah antara aku dan ayahanda, beliau tipe orang tua yang sangat dekat pada anak-anaknya. Beliau sangat jarang marah bahkan hampir tidak pernah marah. Ketika beliau melakukan kesalahan tidak segan meminta maaf meskipun pada anaknya sendiri. Ayah juga senang bercanda bahkan sering bercerita tentang kisah-kisah Islami. Di waktu sedang sakit pun ayahanda masih sempat memujiku, aku tahu ayahanda bermaksud menghiburku agar aku tak bersedih melihat kondisi kesehatannya yang semakin menurun.

Sebelum berangkat ke masjid ayah selalu menyempatkan mengetuk pintu kamarku agar aku segera bangun untuk melaksanajan shalat subuh. Sebagai anak perempuan aku lebih terbuka pada ayah untuk meminta pendapat dalam banyak hal juga nasehat lainnya. Saat hati sedang sedih aku kerap kali mengadu pada ayahanda. Saat aku sedang sakit ayah begitu sibuk merawat dan mencarikan obat untukku, kalau aku rewel tidak ingin berobat ayah menjemput dokter kepercayaannya untuk memastikan kesehatanku, beberapa hari ini kesehatanku sedang terganggu jadi inget ayahanda terus, hiks, .... Ayah.

Di bulan Ramadhan ini aku semakin rindu padamu ayah, semoga engkau bahagia di alam sana, hanya doa kami yang mampu kami kirimkan untukmu ayah. Semua tentang kita saat ayah masih ada di dunia menjadi kenangan terindah yang sulit untuk dilupakan. Biarlah kenangan indah ini akan selalu ada dalam keseharianku ya keseharian kami.

Ramadhan tinggal sebentar lagi bukan berarti kerinduan pada ayah akan terhenti, rasa rindu ini akan tetap abadi dalam diri kami. Kalau saat ini kami tak lagi menangis bukan berarti kami tak sedih, tapi sedih kami tuangkan dalam doa-doa kami agar menjadi teman ayah menanti hari-hari kemudian. Kami tak bisa setiap saat mengunjungi pusaramu ayah, agar kami bisa menjalani kehidupan seperti yang pernah ayah nasehatkan pada kami.

Mungkin sebagian orang lebih menafsirkan lagu semua tentang kita yang dibawakan oleh Peterpan menceritakan tentang sepasang kekasih, tapi aku lebih memaknai liriknya pada kedekatan seorang anak pada orang tuanya yang dalam hal ini seorang ayah. Ada banyak cerita suka, duka, canda dan impian indah yang sempat terucapkan demi untuk membahagiakan beliau, tapi kini tinggal cerita yang indah dan tak boleh untuk dilupakan. I love you ayah, semoga engkau bahagia di sisi Tuhan mu aamiin Ya Allah.

Ini lirik lagunya Semua Tentang Kita

Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati

Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka saat kita tertawa

Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita


Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka saat kita tertawa

Ini tayangan videonya



Seharusnya postingan ini sudah terbit beberapa hari lewat saat kumpul keluarga, tapi kondisiku baru bisa menerbitkan hari ini yah tak apalah. Ayahanda boleh saja tak ada lagi di dunia yang fana ini tapi semua tentang kita nasehat, perhatian serta kasih sayangnya selalu hidup dalam kehidupanku setiap hari.

Read More

Selasa, 29 Mei 2018

Ranum Kamboja Mewangi

24 comments

Ranum Kamboja mewangi, ini judul puisi sebelumnya admin curhat dulu ya.
Terima kasih sahabat Maya yang masih setia hadir di blog Jejak Maya. Blog ini adalah blog terindah yang admin miliki seiring berjalannya waktu mungkin ada hati yang terluka bahkan mungkin ada prasangka tulus dari lubuk hati yang terdalam admin jejak maya mohon dimaafkan untuk setiap khilaf dan salah.

Blog ini tetap akan terus berbagi hal-hal sederhana ada tidaknya yang berkenan hadir karena blog ini murni dibangun untuk berbagi, hiburan dan sarana belajar banyak hal. Kalau beberapa hari ini blog jejak maya tidak menerbitkan apa-apa di sini secara jujur admin sempat shock adsense admin di blog ini terpaksa di non aktifkan karena klik tidak valid. Sehingga menimbulkan tanya "salah apakah gerangan diriku?" Selama ini admin jejak maya tidak pernah mengganggu blog orang lain lalu kenapa blog jejak maya mendapat perlakuan demikian?

Dalam kesempatan yang indah ini di bulan penuh ampunan bila memang ada salah baik admin maupun tulisan di blog ini sebagai pengelola blog jejak maya meminta maaf yang setulus-tulusnya. Blog ini memang bukan sumber mata pencaharian, hanya sebatas senang saja memiliki blog yang ada iklan googlenya hanya itu saja, tapi sekarang sudahlah selalu ada hikmah di setiap peristiwa terutama admin jadi tahu bahwa dunia blog itu yah seperti admin alami, tidak apa ini pelajaran sangat berharga yang tak akan admin temui bila tidak mengelola blog bahkan admin jejak maya mengucapkan banyak terima kasih sudah memberikan pelajaran yang sangat berharga ini.

Alhamdulillah setelah beberapa orang teman sesama pengelola blog mensuport bahwa adsense bukanlah segalanya dan admin sadar bahwa memang dari awal mengelola blog bukan karena adsense kini rasa rindu yang menggebu pada blog ini benar-benar tak dapat di tahan lagi.

Untuk bagian yang eror sampai saat ini admin jejak maya tidak bisa memperbaikinya mungkin ada baiknya dibiarkan saja sampai ada yang benar-benar tulus ikhlas untuk melakukannya, karena sampai saat ini admin jejak maya hanya mempercayakannya pada dua orang teman. Dua orang teman inilah yang sejak awal membangun blog ini sudah sangat banyak membantu tentu saja admin jejak maya sangat berterima kasih kepada keduanya, tapi mungkin keduanya sedang sangat sibuk dan sudah tidak mungkin lagi untuk membantu yah, ... admin jejak maya tidak bisa berbuat apa-apa. Anggap saja kenang-kenangan mungkin? Hehe ...

Kangen banget menulis dan berpuisi ahay masih bisa nggak ya, kita coba yuk!



Ranum Kamboja Mewangi


Bila mentari lelah mengemban tugasnya
Tiba menggelar sajadah malam
Berbicara pada pekatnya kelam
Menitiskan sebuah kerinduan
Rasa yang tak akan pernah padam
Walau duri-duri tajam ditancamkam
Dan perih yang tak pernah lelah menguliti raga

Suatu saat setiap rasa yang terlahir
Akan berakhir dan menjadi penawar luka
Walau luka memenuhi setiap inci raga ini
Darah merah mengucur deras
Rasa getir tak lagi terasa
Biarkan darah terus mengalir hingga tak lagi mampu menitik
Setiap peristiwa akan ada akhir
Walau tak selalu berbuah manis

Ketika daya tak lagi mampu mengangkat raga
Ada tanyaku pada hati yang suci
Adakah luka ini Kau bawa pergi?
Kulebur menancap di jantung hati
Biar kekal terukir sampai raga ini mati

Dalam sisa detik yang masih kumiliki
Nama-Mu mengiringi langkah kaki
Engkau ada dan dekat sekali
Menatapku tak berkedip
Hingga jiwa ini kembali pada-Mu
Tetap tuntun aku menuju ke rahim bumi

Untuk terakhir kali
Dalam bait doa yang mengiringi melepas jiwa memenuhi janji
Semoga ranum kamboja mewangi
Di pusara jasad yang harus pergi
Keindahan sejati saling berbagi
Semoga tak akan terhenti
Walau jiwa telah menepati janji

Ranum kamboja seakan bersaksi
Wanginya semerbak menabur damai
Walau tak disambut dengan senyuman
Ikhlas menyeruak dinginnya bibir yang membisu
lisan yang mencaci
Hati yang penuh benci
Tatap penuh curiga
Ranum kamboja mekar tiada yang perduli
Dan gugur ke bumi digundukan pusara sunyi
Rela melebur bersama jasad yang harus pergi

Ranum Kamboja mewangi di pusara sepi siapa yang perduli,
begitukah kehidupan yang fana ini.

🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Bandar Lampung
13 Ramadhan 1439 H

Read More