Jumat, 13 April 2018

Lagu Ayah dari Seventeen

42 comments

Lagu Ayah dari Seventeen ini membuat hati haru sekaligus membuat hatiku yang sedang rindu pada ayah semakin rindu. Iyalah bocorannya nih admin jejak maya sedang rindu berat dengan sosok lelaki hebat dalam hidup ini, dia adalah ayah. Semoga ayahanda bahagia di alam sana aamiin ya Robbal'allamiin.

Sangat banyak lagu-lagu yang sengaja diciptakan oleh pengarang atau pencipta lagu khusus buat para ayah yang hebat, begitu pula dengan lagu ayah yang dinyanyikan oleh Seventeen yang merupakan tembang cantik yang dikhususkan bagi seluruh ayah yang hebat bagi anak dan keluarga yang sangat disayanginya.

Lagu Ayah bergenre pop yang dibawakan secara apik oleh band Seventen menceritakan betapa perjuangan seorang ayah dalam membesarkan dan bagaimana bentuk perhatian serta kasih sayang seorang ayah terhadap anak-anak dan keluarganya.

Saat aku mendengarkan lagu ini terbayang kehebatan seorang ayah yang begitu gigihnya berjuang dengan segala kemampuannya dan segenap jiwa raganya semua demi cinta kasih pada anak dan keluarganya.

Luluh hati rasanya setiap kata memcerminkan kasih sayang yang tercurah utuh untuk kebahagiaan sang buah hati juga keluarga. Secara jujur lagu ini sangat menggugah rasa haru dan membuat hati merindumu ayah.

Dalam lirik lagu ini juga diungkapkan tentang bagaimana seorang anak yang mengakui kehebatan seorang ayah baginya. Tentang kerinduannya pada sang ayah. Bahkan dilukiskan bagaimana sang ayah sebagai pelindungnya dalam setiap situasi bahkan situasi tersulit sekalipun.

Sempurnanya lirik lagu ini diiringi musik yang lembut sejuk di hati membuat tak bosan walau sudah berulang kali aku memutar dan mendengarkan lagu ini. Aku merasa semakin sering aku mendengarnya semakin suka dengan setiap liriknya. Akhirnya secara keseluruhan ia, aku suka banget dengan lagu ayah yang dibawakan oleh band seventen ini. Setiap bait memuat kata- kata yang teramat menyentuh rasa.

Sangat cocok rasanya bila aku katakan lagu ayah ini persembahan untukmu ayah hebat dimanapun berada, semoga ayah yang hebat, yang berjuang untuk kebahagiaan anak dan keluarganya mendapatkan balasan yang indah dari Allah, aamiin ya Allah.



Lagu Ayah dari Seventeen

Engkaulah nafasku

Yang menjaga di dalam hidupku

Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik

Kau tak pernah lelah

Sebagai penopang dalam hidupku

Kau berikan aku semua yang terindah

Aku hanya memanggilmu ayah

Di saat ku kehilangan arah

Aku hanya mengingatmu ayah

Jika aku tlah jauh darimu

Kau tak pernah lelah

Sebagai penopang dalam hidupku

Kau berikan aku semua yang terindah

Aku hanya memanggilmu ayah

Di saat ku kehilangan arah

Aku hanya mengingatmu ayah

Jika aku tlah jauh darimu

Aku hanya memanggilmu ayah

Di saat ku kehilangan arah


Aku hanya mengingatmu ayah

Jika aku tlah jauh darimu

Aku hanya memanggilmu ayah

Di saat ku kehilangan arah


Aku hanya mengingatmu ayah

Jika aku tlah jauh darimu


Oh ya, buat yang belum tahu dengan lagunya coba deh klik linknya dibawah ini, atau kamu sudah tahu dengan lagunya, gimana menurutmu dengan lagu ini? Boleh share di kolom komentar atau kamu juga sedang kangen dengan ayah yang mungkin sedang berada ditempat yang jauh dari lelaki hebat tersebut?

Ayah, aku memanggilmu ayah semoga doa terbaikku membuatmu bahagia disana.

Lagu Ayah dari Seventeen

artikel : Lagu Ayah dari Seventeen

Read More

Senin, 09 April 2018

Senja Akan Selalu Ada dan Tepat Waktu

37 comments



"Terkadang kita butuh mengutuk senja, dengan alasan tertentu, tapi jangan terlalu lama yaa karena esok hari kita masih membutuhkannya ..." Ucap Gunawan sambil menatap jauh ke depan. Dihadapannya langit jingga keemasan perlahan meredup seakan awan hitam enggan bergerak tak rela menghadirkan gelap mengakhiri tugas sang matahari. Seakan awan pun tak ingin kehilangan indahnya senja yang menghias langitnya. Tampak sepasang mata menikmati senja keemasan yang terhampar memanjakan mata.

"Aku mengutuk senja yang kemarin saja kok, ... mana mungkin aku mengutuk senja berikutnya." Sedikit merajuk Dinda membelalakkan matanya menatap Kakaknya yang tak jua mengalihkan pandangan dari rona senja yang segera berakhir.

"Ya, ... harusnya memang begitu karena senja hari ini lebih indah dari senja yang kemarin."

"Senja yang kemarin juga indah Lanceuk, hanya saja perasaanku yang sedang kesal."

"Oho, adi salah alamat tuh, ... perasaan sedang kesal mengapa senja yang menjadi sasaran?"

"Biarin! Suka-suka Dinda, Lanceuk kok ngatur-ngatur gitu sih!"

,

"Hem, perasaannya masih kesal ya? Tuh, masih marah-marah saja, nanti cepet keriput loh." Gunawan menggoda adiknya yang masih terus menampakkan wajah kesalnya. "Kemarin perasaan kesal membenci senja, lah sekarang perasaan kesal, kok tidak membenci senja, ... hehe ..." Lanjut kakaknya Dinda kali ini Gunawan duduk disamping adiknya sambil membuka tutup botol air mineral dan langsung meneguknya beberapa tegukan. "Minum dulu biar kesalnya hilang, hatinya jadi adem, nih ....! Gunawan menyodorkan botol mineral untuk Dinda adiknya.

Gunawan mengambil dodol Garut dari dalam tas ransel yang tergeletak di sisi kanan Dinda tepat diantara keduanya.

"Senja akan selalu ada dan tepat waktu dik, supaya kesibukan di dunia sempat beristirahat, mengumpulkan energi untuk aktifitas esok hari, ... betul begitu Dinda yang suka ngambek, hehe ....? Tuh cobain dodol oleh-oleh dari pak Hernawan ...!"

Pak Hernawan adalah pemilik kambing-kambing yang digembalakan Gunawan.

Gunawan memperhatikan Dinda yang terus memandang kaki langit yang merona jingga keemasan, sambil meneguk air mineral dengan perlahan. Rasa segar menjalari kerongkongannya. Sementara matahari kian tertutup awan. Tampak Gunawan melepaskan tali tambang yang ditambatkan di pohon nangka. Lima ekor kambing yang sedang digembalakan oleh kakak beradik ini gemuk-gemuk, tentu saja tidak hanya gemuk, tapi juga sehat karena kedua kakak adik ini merawatnya dengan kesungguhan layaknya hewan piaraan mereka sendiri.

Pak Hernawan juga sayang pada Dinda juga kakanya. Dinda masih bisa melanjutkan sekolah sampai menengah atas dan sebentar lagi akan mengikuti ujian akhir sekolah atas biaya dari pak Hernawan. Pak Hernawan berjanji pada kedua orang tua Dinda dan Gunawan akan merawat dan membiayai pendidikan mereka hingga perguruan tinggi sekalipun. Sayangnya Gunawan tidak ingin melanjutkan ke perguruan tinggi karena tidak ingin membebani pak Hernawan, tapi ia ingin agar Dinda bisa lanjut kepergguruan tinggi. Itu juga yang menyebabkan Gunawan memilih bekerja sebagai cleaning service di Rumah Bersalin yang ada di daerah tempat ia tinggal. Kemarin ia terlambat pulang karena teman kerja aplusnya izin tidak masuk kerja. Sehingga Gunawan terpaksa menggantikan tugas temannya di sore harinya.

Senja kian tenggelam saatnya mereka pulang dan membawa kambing-kambingnya ke kandang.

"Ayo Dinda, sebentar lagi senja benar-benar tenggelam, kita harus segera pulang!"

Dinda menyandang tas ranselnya mengikuti langkah kakaknya dari belakang.

"Senang lihat adikku tidak cemberut lagi." Gunawan menengok kebelakang dia lihat sang adik tampak sudah tak marah lagi.

Dinda hanya diam saja tak begitu ingin merespon kata-kata kakaknya. Dalam hati Dinda memuji kakaknya yang selalu sabar menghadapi kemanjaan maupun kenakalan dirinya. Dinda tahu betul kakaknya sangat sayang padanya. Tugasnya menggembala kambing hingga senja berakhir kemarin seorang diri sebenar terpaksa dibebankan padanya karena sang kakak sedang ada pekerjaan sehingga terlambat pulang.

Meskipun kambing-kambing piaraannya tidak akan membuat repot Dinda dan tempat padang rumput yang biasa mereka gunakan ngangon kambing tidak jauh dari rumah mereka Gunawan sangat tahu Dinda akan kesal dan sebenarnya tidak tega membiarkan Dinda menggembala kambing seorang diri kemarin, tapi persediaan pakan sedang habis karena Gunawan tak sempat ngarit sebelum berangkat kerja.

Gunawan meminta tolong Dinda lewat SMS, "Dinda, pulang sekolah jangan lupa shalat dan makan, kakak minta tolong bawalah kambing kita ke padang rumput tempat biasa kakak membawanya, ... ya, maaf kakak terlambat pulang."

"Yah, ... kok Dinda sih?"

"Nanti kalau sudah selesai kakak langsung kesana ya, kakak janji." Balasan SMS dari Gunawan pada adiknya.

Dinda kesal dengan tugas ini meskipun Dinda pernah menggembalakan kambing, tapi tidak pernah sendirian selalu bersama kakaknya Gunawan. Dinda biasanya hanya ikut saja dan menghabiskan waktunya untuk membaca buku atau mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Bagaimanapun enggannya Dinda dengan pekerjaan ini, demi rasa hormat dan sayangnya pada sang kakak dikerjakannya juga, yang membuat Dinda tambah kesal kakaknya datang setelah senja benar-benar berakhir. Tak urung kekesalannya dia lontarkan begitu saja, "aku benci dan mengutuk senja, senja yang menyebalkan!" Rutuk Dinda dalam hati.

"Maaf ya adi, kakak telat, pasti bete sendirian ya...?" Gunawan segera memasukkan kambing-kambing ke kandang. Gunawan tiba di depan rumah tepat bersamaan Dinda juga sampai di rumah dengan hewan gembalaannya.



"Aku benci senja!"

"Loh, kenapa?"

"Sudahlah ak!"

Kekesalan di senja kemarin. Dinda kesal pada senja, dia ingin senja tidak cepat berakhir agar kakaknya tidak terlambat datang.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Halo, bosan dengan fiksi jejak maya? Semoga tidak ya. Kali ini imajenasiku menari pada dua orang kakak beradik. Maksudku ada kakak beradik dalam cerita ini muncul begitu saja dalam benakku setelah membaca komentar dari admin blog Saung Maman dipostinganku sebelum ini. Aku sangat yakin kalian mengenalnya, karena beliau seorang blogger senior dan rajin merespon setiap komentar juga kunjungan di blognya. Pasti sudah tahu dong siapa beliau.

Hem, sudah menebak ya, nah untuk yang masih penasaran dengan pemilik blog saung maman ini silahkan kunjungi rumah keduanya yaitu : saungmaman.com.

Dipostinganku sebelum cerita ini ada seorang teman blog beliau pemilik blog diarymahasiswa.com namanya Andi Nugraha tentunya juga sudah tak asing lagi dengan bloger satu ini, buat yang belum tahu silahkan berkunjung ke buku diary beliau, kamu akan disambut dengan penuh keakraban dan jangan kaget kalau komentar diblognya ramai, kok bisa ya? Mungkin kamu akan menemukan jawabannya setelah berkunjung sendiri ke blognya.



Beliau bilang begini dipostinganku sebelum ini :

"Keren nih, Teh. Nemenin diwaktu siangku, ngomongin soal ngopi aku sendiri udah lama nggak minum kopi. Udah tiga harian ini minum coklat anget terus..hehe

Oh, ya, Teh. Btw, kalau boleh saran, next gambarnya di perbesar aja coba, biar terlihat bagus, terus di taro posisi tengah :)

Ide cerita memang banyak banget berkeliarang di sekeliling kita ya, Teh. Asal kita peka pasti banyak ide yang did apat, terkadang malah bingung nulis yang mana dulu ya..hehe."

Sekarang aku ikuti sarannya dan dalam kesempatan ini juga aku ucapkan banyak terima kasih untuk sarannya, semoga berkah ya .... 😀🙏🏻

Baiklah terima kasih untuk responnya ceritaku boleh jadi tidak menarik dan jauh dari unik. Tapi, imajenasiku tak mampu berkutik kala jemariku mulai terusik. Jadilah rangkaian aksara tanpa makna, biarlah tak mengapa karena hanya ini yang kubisa.
Wassallam.

Sebenarnya aku ingin segera menutup postingan ini, tapi sepertinya kara-kata ini cukup manis sebagai penutupnya :

Tak ada yang salah dengan senja
Emosi hanyalah luapan rasa saja
Sesaat hati melembut
Maafpun terjemput


Fiksi : Senja Akan Selalu Ada dan Tepat Waktu.

@@@

Read More

Jumat, 06 April 2018

Ksatriaku dan Secangkir Kopi

25 comments

Judul : Ksatriaku dan Secangkir Kopi

Oleh : Admin Jejak Maya

Kau tahu aku sering menyebutmu dengan sebutan yang cukup fenomenal itu menurut teman-temanku. Ya, ku panggil engkau ksatria. Aku punya banyak alasan mengapa kau ku panggil ksatria.

"Kau ini amat berlebihan," sekali waktu saat kau ku panggil ksatria.

"Apa yang berlebihan?" Aku pura-pura tak mengerti dengan apa yang engkau bicarakan. Aku loh selalu ingin memancing obrolan panjang meski sebenarnya tak kau jelaskan pun aku tahu persis apa yang engkau maksudkan. Aku sempat menyungging senyuman sekedar ingin menggodamu di waktu senja itu.

"Ah sudahlah kau selalu begitu," Begitulah respon balik yang kerap aku terima darimu. Sebenarnya aku tahu engkau merasa malu setiap kali ku panggil ksatria.

"Hei, ... wajah mu memerah, ... hem kau sakit?" Dengan tatapan khawatir yang aku rekayasa sekedar ingin menghilangkan ketidaknyamanan yang kulihat dari mu.

"Tidak, aku tidak sakit, ... ayolah buatkan aku secangkir kopi!" Kau masih menundukkan wajahmu seakan ingin menyembunyikan seluruh wajahmu dari tatapan mataku.

"Ok, kau ksatriaku dan secangkir kopi, ... hehe, kutambahkan julukan untukmu."

Kita menikmati senja itu dengan sambil menghirup aroma dari secangkir kopi hitam berdua. Senja memang indah dengan rona jingganya menghias langit menyimpan cerita disetiap harinya. Kita seakan tak ingin terlewatkan menatap rona jingga yang sesaat yang kemudian hadirkan gelap. Andai saja bisa ingin rasanya ku tahan sejenak waktu senja agar kita puas bermandikan ronanya yang mempesona. Tapi tidak mungkin karena sang waktu berdetak selalu sama hari ini juga kemarin juga esok tak dilebihkan maupun dikurangi, kau pernah berkata begitu.

Disetiap senja yang kita lewati bersama banyak harapan yang kita bincangkan. Bahkan kau katakan kau akan selalu menikmati senja bersamaku ditemani celoteh si kecil yang duduk dipankuanmu. Kita seakan tak mungkin untuk dipisahkan selalu saja ingin bersama. "Ksatriaku, jangan tinggalkan aku, rasanya aku lemah tanpamu," disela-sela perbincangan senja seringnya aku memohon padamu.

"Hai, apa yang kau katakan, ... aku tak akan meninggalkamu kecuali maut yang memisahkan kita, kau harus percaya itu," katamu sambil memeluk erat bahuku.

Ternyata kita tidak perlu maut yang memisahkan. Hingga kesalahpahaman di senja itu pun terjadi. Kau memilih diam seribu bahasa dan tak ada lagi ucap mesra, yang lebih menyakitiku kau memilih orang lain membuatkan secangkir kopi untukmu pada senja-senja berikutnya.

Entah sudah berapakali aku menyeduh kopi untukmu dan hanya kau biarkan dingin begitu saja, jangankan kau sesap kopi terbaik racikan tanganku, yang ada bahkan kau biarkan basi tak tersentuh. Aku sempat kecewa dengan perlakuanmu, tapi aku bukanlah bunga yang terpetik dan layu. Aku punya kehidupan yang layak kujalani. Aku punya impian indah disetiap jejak langkahku. Aku punya harapan yang membakar semangatku. Tidak akan aku membuang waktuku hanya karena ksatria sepertimu. Plin plan, tak punya pendirian manisnya hanya sebatas kata-kata, hem kau bukan tipe ksatria yang ada dalam pemikiranku selama ini ternyata.

Jalanku masih panjang. Pergilah! Engkau ksatriaku dan kopi hitam, kelak akan kau lihat siapa yang telah engkau tinggalkan.

Kini ksatriaku dan secangkir kopi itu tak ada lagi dalam tatapan mataku. Tidak juga ada lagi dalam merahnya hatiku apalagi dalam harini-ku.

Sejak kepergianmu aku tak lagi menatap senja. Tiba-tiba saja aku merasa bosan menatap senja. Akupun sudah muak dengan indahmya senja. Bahkan aku sangat ingin mengutuk senja agar senja sadar bahwa aku tak lagi menyukai senja dan aku bukan lagi pengagum senja. Aku membenci senja, karena kini aku sadar selama ini aku telah dibutakan oleh senja padahal masih banyak pesona lain yang layak kukagumi, ah sudahlah! Biarkan ksatriaku dan secangkir kopi mengurung diri dalam rumah pilihan hatinya aku tak ingin pusing dibuatnya.


Ksatriaku dan Secangkir Kopi


Ide cerita komentar teman blog dan penulis buku Sajak Asmara

Sama halnya dengan Satria Salju kami diperkenalkan lewat blog ponsel mywapblog. Sejak berakhir layanan karena pemilik mywapblog memutuskan untuk menutup layanannya kemudian kami hijrah ke blogger milik google sampai saat ini.

Kalau admin jejak maya hanyalah penulis amatir sebatas hiburan saja beda dengan Kang Djcka Artub, beliau adalah penulis profesional dan sudah menghasilkan karya tulis salah satu buku yang admin tahu yaitu yang berjudul Sajak Asmara. Menurut informasi sudah lebih dari satu buku karya beliau yang sudah berhasil diterbitkan untuk lebih jelasnya silahkan kontak beliau langsung ya.

Tulisan-tulisan yang dimuat di blognya pun sangat luar biasa enak dibaca bahkan kita bisa menemukan unsur-unsur pendidikan yang tersembunyi berkat kepiawaiannya mengolah kata-kata. Hem, ... penasaran? Cek blognya! Orangnya sangat respon untuk setiap kunjungan di blog yang beliau kelola terutama yang meninggalkan jejak di kolom komentar pada blognya tersebut. Nggak percaya? Coba aja.

Ok, terima kasih sudah hadir dan membaca, lain kali kita sambung lagi. Siapa yang akan terciduk untuk postingan berikutnya? Kita tunggu saja, wassallam.

Genre fiksi : Ksatriaku dan Secangkir Kopi

Read More

Selasa, 03 April 2018

Ternyata Aku Tuh Nggak Sibuk Sibuk Amat Ya

29 comments

Hujan deras bercampur angin sesekali kilat seakan membelah bumi ditambah angin kencang, rasa bergidik bulu kuduk antara merasa seram dan dingin menggelayuti perasaanku. Malam ini aku baru saja pulang dari kabupaten tetangga menghadiri acara pertemuan kelompok penggiat koperasi remaja. Perjalanan lima jam lewat darat cukup mendatangkan lelah. Ngantuk juga menyerang karena aku memilih berangkat sebelum subuh dari rumah agar tepat waktu. Aku sengaja berangkat dini hari jadi tidak perlu menginap, selesai acara pun aku langsung pulang. Alhamdulillah acara berjalan lancar dan sukses.

Sehari tak membuka pintu dan jendela jejak maya rindu menggerayangi rasaku. Jejak maya terkunci rapat karena sang admin sedang menjalankan amanah dan tugas dari sang pucuk pimpinan. Menjalankan amanah adalah kewajiban dan harus melaksanakan dengan rasa gembira karena resep ampuhnya memang harus gembira agar tak merasa berat menjalani tugas yang sudah menjadi kewajiban.

Rindu yang kian membuncah, tapi aku harus menahan diri sejenak karena sang pintar tempat jejak maya bertahta harus di beri energi lebih kurang tiga puluh menit, beruntungnya tidak ada pemadaman. Ini tidak seperti biasanya, hujan angin tumben-tumbennya tidak terjadi pemadaman oleh PLN. Yah sudahlah mereka yang lebih tahu mana yang harus mereka lakukan. Sementara ku seduh kopi hitam kegemaranku, dan biarkan si hitam manis mengisi energi yang sempat lowbat karena menjalankan tugasnya seharian.

Padahal aku dapat khabar dari seorang teman, kecamatan tetangga sedang ada pemadaman karena gardu PLN tersambar petir dan sedang dalam masa perbaikan.

Menyesap kopi hitam mampu melebur rasa penat dan kantuk yang menghampiriku. Rasanya ingin rebah sejenak, tapi raga memilih terjaga dan membongkar tas ransel yang sesak dengan PR yang belum terjamah, "ok nanti saja" batinku berbisik.

Tiga puluh menit berlalu, cawan keramik berisi kopi hitam mulai tersesap sedikit demi sedikit, begitu caraku menikmati kopi kegemaranku. Perlahan aku membuka pintu jejak maya, aku tersenyum membaca komentar-komentar yang masuk di kolom komentar, ya aku membaca komentar satu persatu itu pun mengundang rasa bahagiaku. Semua komentar yang masuk rata-rata membakar semangatku tak terkecuali komentar seorang teman sesama blog yang bernama Satria Salju, kami berteman di dunia blog saat masih sama-sama mengelola blog ponsel. Meskipun kami tak pernah bertemu di dunia nyata, tapi lewat komentar dan saling berkunjung ke sesama blog kesan akrab tentunya terjalin dan tergambar lewat komentar yang seakan teman sepermainan sejak kecil.

Hello! Jadi kalau kamu menemukan komentar yang kadang lebay, sok akrab, di blog gado-gado ini jangan salah menduga itu semua adalah karena seorang teman blog yang memposisikan dirinya seolah memang teman sepermainan di dunia nyata dan tak lain adalah ingin saling mensuport, menjaga hubungan silaturahmi, saling menyemangati dan sudah saatnya kamu yang mempunyai pola pemikiran buruk hilangkanlah prasangka negatif dalam pemikiranmu. Kami hanyalah sahabat yang merasa dekat dan ingin saling memberi semangat jadi jangan salah tebak, hehe, ... asli becanda bro sekedar ingin berkelakar ku rasa tak ada salahnya.

"

Susah Tidur Dan galau tapi masih bisa Nulis itu luar biasa mbak mhay... Atau lagi iseng nggak bisa tidur juga luar biasa...😊😊. " Itu komentar beliau.

Aku malah kesita waktuku sama pekerjaan & ngurus keluarga .. Sudah beberapa bulan nggak nulis2...😭😭😭" Masih lanjutan sang master Satria Salju.

"lagi iseng, nggak bisa tidur efek mules hehe .... hasilnya ya itu sekedar corat coret nggak jelas." Aku membalas komentar beliau.

"ya kalau sibuk dunia nyata itu sih jelas bro." Lanjut komentarku.

"eh aku jadi ada ide tulisan dari komentar mu, tunggu ya hehe" ku ketikan dengan santai dan sambil tersenyum.

Setelah berpikir sejenak. Ternyata aku tuh nggak sibuk-sibuk amat ya. Kok aku jahat banget rasanya membalas pesan WA dari seseorang beberapa hari lewat dengan kalimat seolah orang super sibuk. Ah! Aku jadi malu banget kalau ingat hal ini, please forgive I Unfortunately, I blunder .... it!!!

"Selamat siang, kita biar enak ngomongnya tentang kerjaan ya ...." begitu kira-kira dia memulai pembicaraan.

"Nggak bisa, sekarang juga aku lagi ada kerjaan!" Kalimat yang diluar dugaan sebenarnya.

"Kapan-kapan aja kalau ada waktu!" Tanpa tanya kerjaan apa langsung saja kalimat itu terkirim tanpa berpikir lagi tampaknya.

Andai saja mau berdamai dengan perasaan mungkin yang muncul adalah, "kerjaan apa? Tapi untuk waktu yang sekarang ini aku belum bisa!" Bandingkan rasanya pasti bedakan.

"Kalau ada waktu mungkin bisa?" Wah adem rasanya.

Jahatnya aku ini. Kenapa aku merasa jahat? Tentu saja aku merasa jahat karena ternyata aku tuh nggak sibuk-sibuk amat. Kalau aku memang super sibuk tentu aku tak akan sempat bermain facebook, mengedit-edit aplikasi, mengedit-edit video, sekedar membuat status Wastshap. Seperti komentar Satria Salju waktu untuk ngepos benar-benar tersita karena sibuk yang jelas. Sedangkan aku sibuk tipe apa nih?

Sibuk benar-benar sibuk, sibuk karena menyibukkan diri atau sok sibuk. Entahlah. Yang pasti balasan lewat pesan WA yang terkirim tepat sasaran untuk membuat seseorang terpental dan sakit dengan luka yang teramat dalam, rasakanlah dan rawatlah luka itu agar tak terus berdarah. Weh! Sadis!

Kok jahat sih? Entahlah mungkin karena aku sulit berdamai dengan keadaan dan tidak profesional menghadapi masalah. Padahal orang butuh bantuan sampai ngemis-ngemis, bahasanya pun tidak ada kesan merendahkan. Dimulai dengan kalimat membicarakan pekerjaan, jelas-jelas ingin memisahkan dengan masalah pribadi, ini kalau ada, kok teganya aku ya Allah .... Lagian orang itu butuh bantuan karena ada rasa percaya dan memberikan kerjaan nggak ngarep digratisin. Oh my god .... Yes God forgive me.

Aduh! Terus aku harus gimana ini? Apa aku harus minta maaf sama beliau? Aku rasa gengsiku terlalu tinggi mana mungkin aku meminta maaf itu sudah pasti. Ya aku merasa tidak bersalah dengan jawabanku. Aku merasa benar dalam posisi ini, mengapa aku harus meminta maaf? Aku masih bisa mendapatkan klien baru yang pasti lebih besar bayarannya. Sombongnya aku ini ... Astaghfirullah .... Ampuni aku ya Robb .... Ternyata etika yang aku miliki masih harus dipertanyakan ... Mungkin aku lelah? Itu bukan alasan sayang, berhentilah mencari pembelaan untuk diri sendiri!

Mungkin pola pemikiranku yang buruk sehingga prilakuku juga buruk. Lagian aku sudah bosan menolongnya, dulu aku menolongnya karena aku menyukai dan mencintainya, mungkin loh dan catat baik-baik! Gratis tak kupinta serupiahpun sebagai imbal jasa, meski dia beberapa kali menawarkan uang jasa aku menolaknya dan ya selalu menolaknya, tapi sekarang aku menolak membantunya karena aku membencinya. Apa? Yang bener tuh, ternyata benar kalimat, "jangan terlalu cinta, nanti akan berbalik teramat membencinya."

Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Asyhadu an laa illaaha illallaah
Asyhadu an laa illaaha illallaah
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah
Hayya 'alas-shalaah
Hayya 'alas-shalaah
Hayya 'alal-falaah
Hayya 'alal-falaah
Ash-shalaatu khairum minan-nauum
Ash-shalaatu khairum minan-nauum
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Laa ilaaha illallaah


Terdengar suara azan dari masjid Al-Mansur yang tak jauh dengan rumah tempat tinggalku. Masih dengan perasaan menyesal yang teramat sangat aku menuju kamar mandi membersihkan tubuhku dan segera kutunaikan kewajibanku. Aku memikirkan kesalahanku dan memohon ampunan pada sang Maha pengampun.

Suara hujan deras tampaknya mulai mereda. Tak lagi terdengar gemuruh halilintar. Suara derau angin pun sudah tak terdengar. Hening dan dingin yang tertinggal menemaniku merenungi sesalku.

Well, nasi telah menjadi bubur tinggal gimana mengolah bubur nasi menjadi sedap dan nikmat untuk disantap, mungkin aku akan menambahkan suwiran ayam goreng, taburan bawang goreng, kerupuk emping melinjo kegemaranku kemudian kutambahkan kacang tanah goreng plus saos sambal yang sedikit asam pedas, hem ... Aku jadi lapar!

Ya ampun teryata aku belum sempat makan malam dan ini sudah pagi, pantas saja rasa lapar terasa dan lagu keroncong bergemaria dalam perutku. Ku teguk kopi hitamku yang mendekati ampas satu tegukan kopi dingin yang terakhir lumayan membasahi kerongkonganku.

Ting .... Ting .... Ting, suara mangkuk berdenting saat beradu dengan sendok, membuyarkan konsentrasiku seketika saja. Aku bergegas menuju pintu depan, "mang bubur ayamnya dua mangkuk ya ...."

Wuih makan dulu pesananku sudah datang, pas banget tukang bubur ayam lewat depan rumah. daaghhh terima kasih sudah membaca sampai jumpa lagi ya ....

Genre fiksi dengan judul : Ternyata Aku Tuh Nggak Sibuk Sibuk Amat Ya



Ide cerita komentar teman blog



Read More

Jumat, 30 Maret 2018

Aku Sedang Menulis Artikel di Blog Jejak Maya

41 comments

Aku semalam sulit sekali untuk tertidur. Meskipun aku sudah berusaha untuk memejamkan mataku, tetap saja aku tidak bisa lelap dan tidur dengan nyenyak.

Aku terlalu memikirkanmu, kau tahu itu? Tidak, kau pasti tidak tahu karena kau tidak lagi perduli padaku. Aku sudah berusaha untuk menggapaimu dengan berbagai cara, tapi kau bergeming dengan sikap acuh dan tak peduli padaku. Aku bisa apa menghadapi sikapmu yang begitu angkuh.

Ah! Aku sempat kesal padamu dan berulah memancing kemarahanmu aku berharap cara itu bisa memancing perhatianmu padaku sedikit saja, ya hanya sedikit saja. Dan, yang terjadi kau semakin membenciku. Bencimu semakin menjadi padaku. Baiklah kau muak padaku ini adalah hukuman untukku darimu.

Kau tahu? Ah! Pasti kau tak ingin tahu apa-apa lagi tentangku. Biar aku berceloteh sendiri saja agar aku merasa lega mengeluarkan segala rasa dan unek-unek yang mengganjal perasaanku. Bukan ini bukan unek-unek, tapi ini tentang mimpi. Ya ini mimpiku beberapa hari yang telah lewat, hem kira-kira dua hari yang telah lalu aku bermimpi.

Kau ingin tahu apa mimpiku? Huh! Betapa bodohnya aku, mengapa aku selalu bertanya seolah kau masih peduli padaku.

Aku bercerita saja tak kau dengarkan pun tak apa-apa. Ini mimpiku ....

Aku sedang menulis artikel di blog jejak maya. Saat itu kau sedang sibuk membersihkan kadang burung kesayanganmu. Lalu kau ingin agar aku membuatkanmu secangkir kopi hitam untukku. Waktu itu suasana masih pagi kau masih menggunakan piyamamu.

"Sayang, tolong kau buatkan aku secangkir kopi yang enak ya."

Aku menoleh menatapmu. Kemudian aku tersenyum dan kau pun membalas senyumanku. "Ok sayang, kau tunggulah sebentar kopi pesananmu segera hadir."

Aku menutup laptopku, kemudian sambil bersenandung aku menuju dapur maya guna membuatkanmu secangkir kopi ternikmat seantero jagad untukmu seorang, tentunya dengan kedua tanganku ini yang tak pernah menyentuhmu entah sampai kapan.

"Kan kunyanyikan lagu rindu untukmu ......." Ya itu potongan lirik yang sempat aku senandungkan dalam mimpiku, kau tahu lagu itu? Kembali aku mengulang kebodohanku, mengapa aku kembali bertanya padamu? Seharusnya aku sudah mulai menghilangkan kebiasaan bodoh ini.

"Sayang kopi pesananmu sudah siap, aku taruh dimana? Apa aku harus menyodorkan ke mulutmu?" Itu kata-kata candaanku yang aku ucapkan dalam mimpiku.

Saat itu aku sangat bahagia bisa berada dekat ya sangat dekat denganmu. Kau sempat menyentuh tanganku yang menyodorkan cangkir kopi padamu. Rasanya lembut dan hangat. Hei! Ia aku ingat kau menggenggam tanganku. Kau tak ingin melepaskan tanganku. Kau genggam tanganku sangat erat. Aku tak mampu melepaskan genggaman tanganmu. Kau menatapku dengan tatapan sayang. Kau menarikku dalam pelukanmu. Kau ucapkan berulang-ulang, "aku sayang kamu, aku sayang kamu tetaplah berada disampingku jangan menjauh lagi ...." Aku susah bernafas kau memelukku terlalu kuat.

Dan, aku melihat kau tersenyum sangat manis dan kau bisikan aku sayang padamu. Hingga aku terjaga pelukanmu masih terasa. Ada apa dengan semuai? Apa karena aku terlalu memikirkanmu hingga aku bermimpi tentangmu? Atau karena kau pun memikirkan aku? Ah tidak mungkin! Aku tahu kau membenciku! Kau muak padaku! Ah betapa bodohnya aku. Aku selalu saja memikirkanmu.

Baiklah itu mimpiku tentangmu atau tentang kebencianmu padaku, biarkan saja semoga setelah aku tuliskan aku bisa melupakan semuanya.

Oh ya. Ada apa dengan rumah di seberang sana? Mungkin gemboknya mulai berkarat. Sampai saat ini aku tak bisa masuk ke dalam rumah itu. Mungkin rumah itu telah terkunci untukku entahlah aku tidak tahu. Aku akan selalu hadir di rumah itu walau hanya mampu berdiri di depan pintunya dan ya ..., aku tidak akan pernah marah seperti yang engkau lakukkan padaku. Bersikaplah kesatria karena engkau adalah pahlawanku dulu dan sampai kapan pun.


Aku sedang menulis artikel di blog jejak maya


Judul : Aku sedang menulis artikel di blog jejak maya

Inspirasi by : edit foto iseng

Read More

Kamis, 29 Maret 2018

Ayo Makan Tahu

25 comments

Ayo Makan Tahu. Buat kamu yang gemar makan tahu tentu tak ingin melewatkan hari tanpa tahu, tiada hari tanpa lauk tahu. Tahu sangat mudah didapatkan di negara tercinta Indonesia selain mudah didapat mudah pula mengolahnya dalam beragam masakan. Tahu bisa di olah menjadi pergedel tahu, sambal tahu, rolade tahu bahkan sempat boming banget tuh yang namanya tahu bulat. Tak berlebihan rasanya bila tahu mendapat gelar makanan sejuta umat karena tahu sangat mudah didapat baik restoran berkelas maupun kedai-kedai di pinggir jalan atau pedagang kaki lima di emperan toko.

Eit! Jangan disangka soal harga yang ramah di dompet terus beranggapan tahu tak bernilai gizi tinggi ya, justeru tahu merupakan salah satu sumber protein nabati yang cukup tinggi. Selain sumber protein nabati tahu juga memiliki kandungan yang akan membuatmu semakin gemar makan tahu, bayangkan dengan harga yang amat terjangkau kamu juga bisa mendapatkan manfaat lain dari zat-zat yang disuguhkan oleh tahu, yaitu : asam amino esensial, sumber zat besi, mangan, selenium, fosfor dan tentu saja masih banyak lagi yang bisa kamu dapatkan dari sitahu yang murah harganya, sederhana bentuknya, mudah didapatnya dan mudah pula mengolahnya dengan beragam masakan yang bisa kamu sesuaikan dengan selera lidahmu, mau pedas, mau berkuah atau mau masakan kering. Pokoknya like you like hehe ...

Ayo makan tahu dan dapatkan manfaat sehat dari tahu, ingin tahu apa saja manfaat sehat dari sitahu yang mungkin dipandang sebelah mata oleh sebagian orang dan di makan setengah hati karena dianggap makanan murahan tak berkelas oleh segelintir orang, ini dia kamu bakal tercengang dibuatnya silahkan di baca ya :

1. Tahu dan Kanker Payudara

Tahu di buat dari kedelai pilihan dan kedelai mengandung fitoestrogen, yaitu hormon estrogen pada makanan nabati, menurut penelitian wanita yang mengonsumsi produk kedelai minimal seminggu sekali dapat menurunkan 48–56% resiko kanker payudara.

Zat fitoestrogen inilah yang secara alami mengikat reseptor estrogen pada sel manusia sehingga berpotensi mengurangi risiko kanker payudara. Akan tetapi, penting untuk diketahui! Penderita kanker payudara jenis tertentu dihimbau untuk tidak mengkonsumsi tahu atau tempe. Mengapa demikian? Tentu saja ada alasannya. Alasannya adalah karena dapat memicu peningkatan jumlah hormon estrogen dalam tubuh yang justru akan merangsang kanker menyebar lebih cepat. Nah jadi harus benar-benar diperhatikan, bila perlu konsultasikan juga pada dokter ya untuk menghindari hal-hal yang membuat fatal akan kesehatanmu.

2. Baik Untuk Menapause

Menapause adalah berhentinya siklus haid pada wanita. Menurut info yang pernah admin baca menapause bisa terjadi saat usia mencapai empat puluh keatas akan tetapi ada juga yang belum mencapai usia tersebut sudah mengalami berhentinya siklus haid ini biasa disebut dengan menapause dini. Penyebabnya bisa saja karena gaya hidup, psikis (kejiwaaan/stress untuk kasus ini biasanya tidak permanen), bahkan operasi atau yang berhubungan dengan medis lainnya.

Biasanya wanita yang mengalami menapause diikuti dengan gejala yang umum seperti emosional, suhu tubuh terasa panas, nyeri sendi dan masih ada lagi yang lainnya. Nah zat fitoestrogen pada kedelai bila dikonsumsi secara teratur mampu beraksi sebagai penambah hormon estrogen yang dipercaya meringankan gejala-gehala pada wanita yang menapause tersebut.

Bagaimana cara mengkonsumsinya? Boleh diolah dengan beragam masakan sesuai selera saja, paling sedikit konsumsilah tahu seminggu sekali atau lebih sering pun tidak apa. Tahu kan mudah di dapat dan murah. Kalau bisa rutin kenapa tidak, bukan begitu brosist?

3. Tahu dan kecantikan (menghambat penuaan dini)

Tahu yang nyata-nyata terbuat dari kedelai dan mengandung Vitamin E. Si vitamin E ini-lah yang dapat meremajakan kembali kulit. Kulit yang gimana? So yang dimaksudkan yaitu kulit kusam, keriput, dan mulai bergelambir alias kendor.

Mengapa? Ya karena Vitamin E pada kedelai ini dapat meningkatkan produksi kolagen yang penting untuk menjaga keelastisan kulitmu.

Nah bagaimana luar biasanya si tahu ini. Mau sehat dan cantik? Tunggu apa lagi ayo makan tahu.

Hello dear! Ingat ya makanlah sesuai dengan takaran gizi yang sesuai karena sesuatu yang berlebihan akan menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan. Cintai dan sayangi tubuhmu dengan pola hidup sehat dan makanan yang sehat okay .., thank you for reading hopefully useful, regards ....

Boleh di coba resep olahan tahu di bawah ini :

Read More

Rabu, 28 Maret 2018

Ayam Semur untuk Cahaya

15 comments

Judul : Ayam Semur untuk Cahaya

Oleh : Admin Jejak Maya

Tampak dengan malasnya Cahaya menyodorkan nasi putih kedalam mulutnya yang mungil pagi itu. Sementara ibu terus memperhatikan gerak-gerik Cahaya dari balik gorden pintu kamar. Ibu sedang berkemas menyiapkan peralatan yang akan dibawanya ke tempat kerja hari ini. Ada pertemuan dengan tamu dari luar kota yang sudah dijadwalkan satu minggu yang lalu.

"Sayang ayo dimakan lauknya, biar sehat!" Ibu Lia mengingatkan gadis berusia delapan tahun itu dari dalam kamar.

"Cahaya bosan lauk tempe bu, Cahaya ingin yang lain ....!"

"Ya untuk pagi ini kita lauk tempe dulu sayang, in syaa Allah besok kita lauk yang lain ya ..." Ibu Lia mendekati Cahaya sambil mengusap lembut punggung gadis kecilnya.

"Cahaya ingin ayam semur bu, boleh ya?"

"Tentu saja boleh sayang, doakan ibu hari ini bisa mendapatkan ayam semur untuk cahaya ya."

Cahaya menganggukan kepalanya kemudian menyuap nasi dengan lauk tempenya masih dengan rasa malasnya. "Cahaya, di luar sana masih ada yang kelaparan, jangankan makan dengan lauk tempe ..., sebutir nasi pun mungkin belum ia dapatkan."

Cahaya meneguk air putih dari dalam botol air minum yang diperuntukkan sebagai bekalnya di sekolah nanti. Cahaya sudah dibiasakan oleh sang ibu untuk selalu membawa bekal dari rumah termasuk air minum.

"Jadi Cahaya harus pandai bersyukur tidak boleh mencela makanan, tempe itu makan bergizi loh ...." Lanjut sang ibu.

"Iya bu, ibu guru juga bilang gitu kok."

"Sip, sekarang sudah siap! Ayo kita tunggu Om Dodi di depan rumah sebentar lagi mobil jemputanmu datang!"

"Iya bu, Cahaya sudah siap, nanti siang kita lauk ayam semur ya bu."

"In syaa Allah ...."

Tet .... Tet .... Mobil jemputan sekolah datang, Cahaya mencium tangan ibunya dan sang ibu mencium pipi kiri kanan gadis kecilnya. "Assallamuallaikum ...."

"Waallaikumsallam, boleh hati-hati ya nak ...." Ibu melambaikan tangannya membalas lambaian tangan Cahaya.

Ibu mengambil dompet kulit berwarna coklat dari dalam tas sandangnya. "Hem, sempat nggak ya ..., tapi Cahaya pasti kecewa kalau siang ini masih lauk tempe lagi ...." Batin ibu Lia. Tentu saja Cahaya bosan lauk tempe, meskipun sudah diolah dengan cara yang berbeda tempe tetap saja tempe.

"Ayam ..., ayam, ayamnya bu?" Terdengar suara pedagang ayam potong menjajakan dagangannya. Ibu Lia bergegas menuju pintu dan memanggil si tukang ayam, "ayamnya mang ....!"

Si tukang ayam memutar motor yang dikendarainya memenuhi panggilan ibu Lia. "Ayamnya setengah kilo aja mang, bagian dada aja kalau bisa mang."

"Bisa bu, ini dua puluh lima ribu, bu."

Ibu Lia menyodorkan uang lima puluh ribuan ke mamang tukang ayam, "ini kembaliannya bu, terima kasih."

"Lia! Kok belum muncul! Cepet udah siang nih!" Suara Surti di ujung hanphone.

"Iya gua langsung kesana deh! Sorry telat!"

"Banget!!!"

Lia bergegas menuju kantor dengan motor bututnya, beruntung motor bututnya nggak rewel. Tidak butuh waktu lama lima belas menit bu Lia sampai di lokasi. Pertemuan pun berlangsung hingga tiga jaman. Ibu Lia gelisah ia lupa menyimpan ayam yang dia beli.

Jam dua belas siang ibu Lia pulang ke rumah biasanya Cahaya pulang jam yang sama.

"Meong ...." Ibu Lia tertegun menatap kucing dihalaman rumahnya sepertinya kucing yang masih menyusui. Dilihatnya kantong plastik sudah koyak-koyak tertiup angin. "Sudah kenyang ya? Ya sudah pergilah!"

Ibu Lia masuk ke dalam rumahnya, "maafin ibu ya nak, hari ini kita lauk tempe lagi," batin ibu Lia sambil membuka tudung saji di atas meja makan.

"Lia .... Lia ....! Lu kenapa sih nyelonong aja, pulang nggak bilang-bilang, nih untuk Cahaya."

"Eh iya maaf gua buru-buru...."

"Tadinya gua mau ajak lu makan dulu, lah gua cari di ruangan lu nggak ada, gua telpon nggak ngangkat, itu sengaja gua bawain buat anak lu, ayam semur untuk Cahaya semoga dia suka."

"Alhamdulillah, emang tadi pagi dia minta ayam semur."

"Ya lu buatin dong!"

"Tadi sebelum ke kantor, gua udah beli ayam, pas gua terima telpon dari lu gua lupa, ayam yang gua beli gua tarok di meja teras, pulang-pulang ayamnya sudah nggak ada tuh, plastiknya." Ibu Lia menunjukkan plastik berwarna bening yang ditiup angin dari balik gorden.

"Hah!!! Jadi gua yang salah dong kalau gitu, semoga ayam semur ini bisa menebus kesalahan gua ke anak lu ya si Cahaya."

"Hehe .... yah udahlah emang dasar sudah rezekinya hari ini mesti makan ayam semur kali ya .... Ih lupa makasih ya ayam semurnya."

T a m a t


Fiksi : Ayam Semur untuk Cahaya



Read More